judul gambar
Memuat...

Sabtu, 21 November 2015

Pakde Karwo
Pakde Karwo didampingi Gus Ipul dalam HUT PGRI 70 di Taman Candrawilwatikta
"2016 sudah tampak di depan mata, itu artinya MEA akan segera diberlakukan, barang dan jasa akan bebas keluar masuk antar negara ASEAN tinggal menunggu waktu. Untuk itu, Pemerintah dan guru harus melakukan perlindungan terhadap pendidikan di Jawa Timur," Demikian disampaikan Gubernur Jatim Pakde Karwo pada peringatan Hari Guru Nasional, Hari Aksara Internasional, dan HUT PGRI ke 70, di Taman Candra Wilwatikta Pandaan Kabupaten Pasuruan, sabtu (21/11) malam.

“Kita harus membuat Perda yang melindungi kekhasan silabi pendidikan Jatim. Yaitu kultural kewilayahan, dan basis ideologi Pancasila harus dimasukkan kedalam konsep pendidikan di Jatim sehingga orang luar yang mau masuk ke Indonesia tidak terlalu mudah," tegasnya.

Seperti diketahui, lebih dari satu dekade silam, para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015.Ini dilakukan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Menurut Pakde Karwo, tantangan ke depan di tahun 2045, ada demografi 12 juta anak muda hebat di Jatim yang memerlukan guru yang hebat. “Saya bergandengan tangan dengan PGRI untuk menjadikan guru-guru hebat. Orang hebat di Jatim, orang-orang yang telah mendidik kita semua harus dilindungi, terutama yang masih honorer. Perjuangan yang paling baik adalah dialog dan fakta yang rasional” ujarnya.

Para Guru berkumpul di Taman Candrawilwatikta
Pakde Karwo meminta kepada yang hadir agar merenungi kembali, apakah perjuangan atau tantangan guru ke depan cukup seperti kemarin? Tentu saja tidak. Kekuatan yang paling penting adalah bersatunya organisasi profesi guru yang jumlahnya sangat besar, dengan pemda provinsi maupun kab/kota dan kalangan pengamat pendidikan. Yang jelas jangan pernah membayangkan bonus demografi 12 juta anak di tahun 2045 menjadi bonus positif, kalau gurunya tidak diurus.

“Kalau ingin bonus demografi itu menjadi produktif, maka guru adalah mesin yang meproduk anak Indonesia di tahun 2045 menjadi generasi emas. Kalau hal itu tidak dilakukan, tidak akan mungkin. Saya dengan Pak Wagub dan seluruh Bupati dan Legislatif (komisi E) bergandengan tangan. Kita harus mendidik,  menyiapkan bonus demografi yang jumlahnya 12 juta menjadi sangat produktif, bukan sebaliknya, anak-anak yang menjadi beban pembangunan. Teknologi telah menguasai kehidupan, maka yang menang adalah yang cepat bukan yang besar. Inilah proses-proses pendidikan baru terutama menghadapi 100 tahun kemedekaan RI di tahun 2045,” tegasnya.

Dalam memperingati HUT PGRI yang ke - 70, yang terutama adalah para guru berbuat yang luar biasa terhadap generasi muda bangsa, sehingga menjadi anak-anak muda yang cerdas. Di tingkat internasional, hampir semua olympiade/lomba dimenangkan anak-anak Jatim. Hal ini bukan anaknya yang hebat tapi gurunya yang hebat. Memang Guru yang baik akan melahirkan anak didik yang hebat.

Salah satu kekhasan Jawa Timur adalah hampir semua anak muda/murid-murid adalah petarung yang hebat di berbagai tempat,karena gurunya meneteskan semangat kejuangan yang hebat kepada anaknya, inilah yang disebut pembangunan karakter. Dan para guru guru telah melahirkan anak-anak hebat.

“Saya tidak mungkin akan berdiri disini kalau tidak ada guru, tidak mungkin saya akan belajar sendiri, dan saya juga anggota PGRI,” katanya. "Anak didik yang berkarakter tidak cukup hanya cerdas, tapi basis yang paling dasar adalah spiritual, etika, moralitas. Kecerdasan intelektual jika tidak dilandasi spiritual, maka akan menjadikan pribadi yang keblinger. Sedangkan spiritualitas jika tidak dibarengi kecerdasan inteletual akan mudah dibohongi dan dipermainkan orang. Iptek dan Imtaq harus jadi satu. Negara yang maju harus dilandasi moral dan etika yang kuat, dan guru pendidik yang hebat." tegasnya.
Guru dari berbagai Kab/Kota di Jatim
memenuhi tribun Taman Cndrawilwatikta
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur didampingi Wagub Saifullah Yusuf juga menyerahkan piala dan hadiah kepada para pemenang lomba tulis dan baca puisi serta kejuaraan catur. Peringatan Hari Guru Nasional, Hari Aksara Internasional, dan HUT PGRI yang mengetengahkan tema “Memantapkan soliditas dan solidaritas PGRI sebagai organisasi profesi guru yang kuat dan bermartabat” dihadiri Dra. Hj Nina Soekarwo, Hj Fatma Saifullah Yusuf, Ketua PB PGRI Jakarta, Bupati Kab/ Kota se Bakorwil Malang, kepala Diknas Provinsi dan Kab/ kota se Jatim, Ketua PGRI Provinsi dan Kab/ Kota se Jatim, dan 21 ribu orang guru kab/kota se Jatim.

Tujuan kegiatan ini, disamping memperngati HUT PGRI ke - 70, adalah meningkatkan kesadaran dan komitmen budaya mutu di kalangan guru dan pemangku kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa terhadap pentingnya pendidikan yang berkualitas. Selain itu juga, untuk meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermartabat bagi semua anak bangsa, dalam peningkatan SDM yang bermutu, serta membangun dan memperkokoh solidaritas dan kesetiakawanan anggota, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada PGRI.

Dalam rangkaian acara, selain dimeriahkan artis–artis dari Ibukota seperti Soimah dan Charlie dengan Setia Band Jakarta, juga penampilan Juara I Lomba Tulis dan Baca Puisi Hj. Chusnul Hayati, Guru SMP I Genteng Banyuwangi dengan judul ‘Kunjungi Panti Jompo” serta berbagai tarian kolosal, diantaranya Tarian Kolosal "Sang Guru". Di puncaki tepat jam 24.00, acara diwarnai dengan kemeriahan pesta kembang api. (**)

*)diolah dari beberapa sumber, salah satu diantaranya http://www.beritalima.com/2015/11/22/gubernur-pakde-karwo-lindungi-ke-khas-an-silabi-pendidikan/

Jumat, 20 November 2015

PGRI Bluluk - TEMA Hari Ulang Tahun yang ke-70 adalah :
Memantapkan Soliditas dan Solidaritas PGRI sebagai Organisasi Profesi Guru yang Kuat dan Bermartabat.
PGRI Bluluk
Sedangkan rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-70 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2015 dimulai bulan September sekaligus memperingati Hari Guru Internasional dan berakhir pada acara puncak pada tanggal 25 November 2015.

1. Upacara Peringatan HUT ke-70 PGRI dan HGN tahun 2015
  • Upacara HUT ke-70 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2015 dilaksanakan serentak tanggal 25 November 2015 atau disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Upacara di daerah diselenggarakan oleh panitia provinsi, kabupaten, kota, cabang, unit kerja pendidikan, dan satuan pendidikan.
  • Dalam upacara peringatan HUT PGRI dan HGN dibacakan ‟Sejarah Singkat PGRI‟, dan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI oleh pembina upacara dan dinyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan lagu Hymne Guru, Terima Kasih Guruku, dan Syukur.
  • Apabila upacara peringatan diselenggarakan oleh Pengurus PGRI dan satuan pendidikan di lingkungan PGRI, dibacakan juga „Sambutan Ketua Umum PB PGRI‟ oleh pembina upacara dan dinyanyikan juga lagu Mars PGRI.
  • Pokok-pokok susunan acara upacara bendera sama dengan susunan upacara peringatan hari besar dengan penyesuaian pada nyanyian lagu-lagu penghargaan terhadap guru.
  • Acara puncak peringatan HUT ke-70 PGRI dan HGN tahun 2015 Tingkat Nasional yang direncanakan akan dihadiri oleh Bapak Presiden RI diselenggarakan pada 25 November 2015 di Jakarta.
  • Pada saat upacara HUT ke-70 PGRI dan HGN tahun 2015 seluruh guru (anggota) harus menggunakan baju seragam PGRI, batik hitam putih motif Kusuma Bangsa dan celana atau rok hitam.
2. Ziarah ke Makam Pahlawan atau Ziarah ke Makam Tokoh Pendidikan/PGRI
  • Ziarah tingkat nasional diadakan di Taman Makam Pahlawan KalibataJakarta pada tanggal 24 November 2015.
  • Di Ibu Kota provinsi, kabupaten/kota yang ada makam pahlawan,diharapkan dapat diselenggarakan ziarah ke makam pahlawan dan/atau makam tokoh pendidikan/PGRI di daerahnya yang diatur penyelenggaraannya oleh Panitia HUT ke-70 PGRI dan HGN tahun2015.
3. Diskusi Publik/ Seminar

Topik yang dibahas disesuaikan dengan tema peringatan HUT ke-70 PGRI dan HGN tahun 2015, yaitu “Memantapkan Soliditas dan Solidaritas PGRI sebagai Organisasi Profesi Guru yang Kuat dan Bermartabat”.
 
4. Konsolidasi Organisasi
  • Pengelolaan keanggotaan PGRI sesuai dengan Sistem Informasi Keanggotaan (SIK) yang telah dikembangkan oleh PB PGRI.
  • Menumbuhkembangkan rasa kepedulian dan tanggung jawabanggota terhadap organisasi, antara lain ditandai dengan pemberianKTA PGRI dan penertiban membayar iuran anggota.
  • Penerimaan anggota baru
  1. Guru dan tenaga kependidikan di Indonesia mencapai 3,8 juta orang. Dalam upaya menjadikan PGRI organisasi yang kuat dan bermartabat perlu meningkatkan jumlah anggota. Semua guru wajib menjadi anggota organisasi profesi guru (Pasal 41 UUGD). Anggota PGRI itu stelsel aktif, menjadi anggota harus mendaftar. Namun begitu, pengurus perlu proaktif, melakukan sosialisasi, menyediakan formulir pendaftaran dan menerbitkan kartu anggota. Pendaftaran anggota baru terutama guru dan tenaga kependidikan di SMK, SMA, SMP, Negeri dan swasta serta sekolah- sekolah di bawah Kementrian Agama, agar mencapai 95% dari jumlah guru di masing-masing wilayah.
  2. Anggota baru yang masuk sampai periode November 2015, akan diumumkan pada acara puncak yaitu upacara HGN dan HUT PGRI tanggal 25 November 2015.
  3. Laporan dari masing-masing provinsi sudah diterima Pengurus Besar paling lambat tanggal 24 November 2015.
  4. PB PGRI akan memberikan penghargaan kepada Pengurus PGRI Provinsi atau Kabupaten/Kota yang berhasil merekrut sedikitnya 80% dari jumlah guru di daerahnya menjadi anggota PGRI dan penambahan anggota dengan prosentase tertinggi.
5. Kampanye Pendidikan Bermutu untuk Semua melalui berbagai kegiatan, misalnya:
  • Media cetak (poster, phamplet, spanduk, dll)
  • Sarasehan /seminar/ talkshow, dll.
  • Menulis dengan tema ”Pendidikan Bermutu untuk Semua” untuk media massa PGRI.
6. Forum Ilmiah Guru (FIG), diselenggarakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pengurus Besar PGRI. 
 
7. Gerak jalan sehat/Bakti sosial (donor darah, kebersihan lingkungan, dll). Gerak jalan di tingkat nasional dilaksanakan pada tanggal 23 November 2015. 

8. Mengadakan kunjungan ke tokoh atau mantan pengurus PGRI, tokoh PGRI, yatim piatu terutama yatim piatu anak guru.

9. Pemberian Penghargaan

Pemberian penghargaan kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang berprestasi dan berdedikasi luar biasa dalam melaksanakan tugas profesionalnya peningkatan kualitas pembelajaran oleh pengurus PGRI di semua tingkat, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai kebijakan wilayah masing-masing. Pada tingkat nasional, PB PGRI memberikan penghargaan Dwidja Praja Nugraha.

10. Mengadakan audiensi kepada pemerintah daerah setempat untuk berkoordinasi tentang persoalan pendidikan, guru, tenaga kependidikan, organisasi profesi guru (PGRI), dan peningkatan pelaksanaan kode etik guru untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan yang berisi norma dan etika yang mengikat perilaku guru.

11. Pameran Pendidikan.
12. Penyebarluasan Kegiatan melalui Media
  • Upayakan kegiatan yang dilakukan disebarluaskan kepada masyarakat, khususnya kepada anggota.
  • Jika memungkinkan diadakan acara khusus dengan media sesuai tema, misalnya publikasi media luar ruang, talkshow, jumpa pers, dan lain-lain.
Senyum Pak Guru
PGRI Bluluk --- PADA tanggal 25 November 1945, seratus hari setelah Indonesia merdeka, di Surakarta, Jawa Tengah, puluhan organisasi guru berkongres, bersepakat, berhimpun dan membentuk satu-satunya wadah organisasi guru, dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sejak lahir PGRI yang bersifat unitaristik, independen, dan nonpolitik praktis, adalah organisasi profesi, perjuangan, dan ketenagakerjaan, yang selalu berupaya mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat, dalam rangka meningkatkan mutu perndidikan di Indonesia.

Sebagai penghormatan kepada guru dan PGRI, Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal 25 November, hari kelahiran PGRI, sebagai Hari Guru Nasional, yang kemudian dimantapkan melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sejak tahun 1994 setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional dan Hari Ulang tahun PGRI secara bersama-sama.
Pada 25 November 2015 ini PGRI genap berusia 70 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Selama kurun waktu tersebut, banyak pengabdian yang telah disumbangkan, banyak aktivitas yang telah dilaksanakan, banyak perjuangan yang telah dikerjakan, banyak kegiatan perlindungan terhadap anggota yang telah diberikan. Di samping itu, telah juga banyak peristiwa, persoalan, tantangan, dan kendala yang telah dihadapinya.
Peringatan HUT ke-70 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun ini akan diadakan sejumlah kegiatan yang direncanakan berlangsung sebelum bulan November 2015. Melalui kegiatan di berbagai tingkat dan jenjang ini diharapkan mampu meningkatkan eksistensi PGRI, menjadikan PGRI sebagai organisasi profesi, serta membangun solidaritas dan kesetiakawanan anggota. Selain itu juga diharapkan mampu meningkatkan semangat anggota dan menggugah pihak lain untuk berperan maksimal dalam memuliakan guru dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, termasuk menjadikan PGRI sebagai organisasi profesi guru yang kuat dan bermartabat. (Red)
Aguk Irawan Baitul Kilmah
Aguk Irawan M.N (Berpeci) bersama santri yang dibinanya Foto: Jawa Pos
SEBAGAI seorang penulis, Aguk Irawan yakin bahwa literasi bisa jadi solusi buat anak-anak muda potensial dari kalangan tidak mampu. Di pesantren yang dikelolanya para santri bebas memilih menerjemahkan atau menulis cerpen, puisi, ataupun novel.
Imam Arya Nusantara menjadi tamu pertama sore itu. Di dalam tas pemuda 26 tahun itu teronggok beberapa buku dan karya tulis yang tidak lama lagi naik cetak di salah satu penerbit.

Tak lama berselang, datanglah Muhib ke rumah yang terletak di Kasongan Permai, Bantul, Jogjakarta, itu. Pemuda berambut gondrong tersebut juga tidak datang dengan tangan kosong. Dia membawa tumpukan kertas hasil terjemahan.

"Oke, ayo kita mulai diskusinya," kata Aguk Irawan, si empunya rumah, seorang penulis yang dikenal sangat produktif itu.

Di luar Aguk, Imam, dan Muhib, hanya ada Kafi dan Aziz pada Selasa sore lalu itu (10/11). Maklum, kegiatan tersebut dilakukan di luar jadwal rutin. Tapi, toh diskusi yang diawali paparan Imam tentang kiat menerjemahkan buku itu tetap berjalan gayeng.

Begitulah, jagat literasi memang menjadi napas keseharian di rumah yang sekaligus menjadi markas Pesantren Kreatif Baitul Kilmah tersebut. Sejalan dengan tujuan Aguk saat mendirikan pesantren sebagai kelanjutan Sanggar Terjemahan Arab pada 2007 itu.

Setiap pekan Baitul Kilmah yang bermakna Rumah Kata memiliki tiga agenda rutin. Pada Senin dan Sabtu, para santri diajak berdiskusi mengenai filsafat dan terjemahan. Selanjutnya, pada Jumat malam, mereka menggelar mujahadah (doa bersama).

Baitul Kilmah memang tidak seperti pesantren pada umumnya. Santrinya lebih banyak diguyur pengetahuan literasi ketimbang agama. Karena itu, jika di pesantren konvensional santri diminta menyetorkan hafalan Alquran, di Baitul Kilmah saban minggu para santri diminta mengirim satu karya sastra. Bentuknya bebas. Bisa cerpen, puisi, novel, hingga karya terjemahan.

"Ketika Selasa atau Sabtu malam dibahas satu per satu," kata Aguk.

Pria asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, tersebut bertugas mengoreksi. Jika sudah bagus, karya bisa dikirim ke penerbit. "Kalau untuk cerpen dan puisi, biasanya dikirim ke media massa," ucap Aguk.

Dunia pria yang ayahnya meninggal sejak dirinya berusia satu tahun itu memang dibentuk kehidupan pesantren dan aktivitas baca tulis. Ketika mengenyam bangku sekolah menengah atas di MAN Babat, Aguk juga belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum, Langitan, Tuban. Aguk lalu melanjutkan kuliah di Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo. Dia berkuliah atas beasiswa Majelis A'la Islamiyah.
Pria yang terlahir dari keluarga sederhana itu kemudian meneruskan studi di Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta. Saat ini pun dia masih menempuh pendidikan doktor (S-3) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta. Selama di Kairo, Aguk kerap menerjemahkan karya sastra Arab. Naskah pertama yang dialihbahasakan adalah Tahta Dzilali Syams (Di Bawah Bayangan Matahari) karya Abu A'la El-Ma'ary. "Saya hidup ya dari uang hasil me­nerjemahkan," katanya.

Sampai sekarang Aguk sudah menerjemahkan sedikitnya seratus buku. Sederet karya fiksi juga sudah dia lahirkan. Antara lain Dari Lembah Sungai Nil, Hadiah Seribu Menara, Liku Luka Kau Kaku, Penantian Perempuan, dan trilogi Risalah Para Pendusta. Ada lagi novel biografi Gus Dur, Peci Miring. Bahkan, saat ini sudah ada 13 novel Aguk yang difilmkan. Yang terbaru novel Air Mata Tuhan. Novel itu kini diputar di bioskop dengan judul Air Mata Surga. Dewi Sandra menjadi pemeran utama dalam film tersebut.

Jejak panjang Aguk di jagat literasi itulah yang membuat banyak anak muda tertarik menimba ilmu darinya di Baitul Kilmah. Imam misalnya. Setahun setelah mendarat di Jogjakarta pada 2008 untuk kuliah di Jurusan Sejarah dan Budaya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dia mulai mendengar Baitul Kilmah. "Tahu dari teman. Saya tertarik karena bisa belajar menerjemahkan dan menulis," ujarnya.

Setelah nyantri, Imam akhirnya menerjemahkan buku sejak 2009. Sampai kini hasil terjemahannya sudah mencapai sepuluh pustaka. Buku pertama yang dia alih bahasakan adalah Biografi Nabi. Saat ini Imam bahkan tidak hanya menerjemahkan buku dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tapi juga ke bahasa Inggris dan Prancis.

Adapun Muhib mengaku awalnya hanya iseng ingin belajar di Baitul Kilmah. Tapi, keisengan itu ternyata berlanjut menjadi keseriusan. Muaranya, sudah banyak buku yang telah diterjemahkan pria asal Jepara tersebut. "Penghasilan dari menerjemahkan juga sudah bisa membantu ekonomi keluarga," ujarnya.

Menurut Aguk, Baitul Kilmah memang hanya diperuntukkan bagi santri yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mulai mantan loper koran, perjual asongan, hingga penarik ojek. Mereka rata-rata sudah nyantri di pesantren lain, tapi terancam tak bisa melanjutkan pendidikan karena perkara biaya. Bagi Aguk, langkahnya itu adalah "jihad" untuk menyediakan kail ketimbang ikan. "Membantu dengan ilmu literasi lebih bermanfaat daripada membantu dengan sejumlah uang," tuturnya.

Aguk mengakui, sebelum sampai pada keputusan mendirikan pesantren literasi, dirinya sebenarnya sempat berada di persimpangan. Persisnya setelah rekan seperjuangannya mendirikan Sanggar Terjemahan Arab pada 2002, Khamran, memilih mundur enam tahun berselang. "Dia keterima menjadi dosen di Lampung," ungkapnya.

Sanggar yang berada di Sewon, Bantul, tersebut selama kurun waktu itu menampung para santri yang pandai berbahasa Arab. Di sana mereka diajari menerjemahkan buku-buku bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Aguk bimbang antara meneruskan ikhtiar di dunia literasi itu atau memilih menjadi dosen seperti sang kolega. Akhirnya keinginan untuk berbagi kepada anak-anak muda dengan latar belakang seperti dirinyalah yang menang.

Aguk mengaku tidak ingin melihat anak muda berpotensi putus sekolah karena masalah ekonomi. Dari sanalah dia lantas mengajak beberapa santri untuk belajar menerjemahkan. "Mereka bisa hidup dari sana. Gaji penerjemah juga tidak sedikit," ucap pria yang berulang tahun tiap 1 April itu. Aguk menambahkan, biasanya para santri yang datang sendiri kepadanya untuk belajar. Namun, ada juga beberapa santri hasil rekomendasi pondok pesantren yang mereka tinggali sekarang.

Perjuangannya tak sia-sia. Sejauh ini Baitul Kilmah sudah meluluskan tujuh angkatan. Tiap angkatan terdiri atas sebelas santri. Adapun kurikulum belajarnya hanya dibatasi dua tahun. "Kalau sudah dua tahun, mereka dianggap sudah mandiri. Bisa mencari uang sendiri dengan ilmu literasi yang didapat dari sini," jelas bapak dua anak itu.

Meski bercikal bakal sanggar yang mengajarkan praktik penerjemahan, ungkap Aguk, para santri di Baitul Kilmah tidak hanya diajari mengalihbahasakan. Mereka bebas mempelajari berbagai karya sastra yang disuka. Boleh cerpen, novel, atau puisi.

Akibat keterbatasan tempat, Aguk mengaku tidak bisa menampung semua santri. Saat ini dia memondokkan para santri di rumah pribadinya di Kasongan. Tapi, dalam waktu dekat mereka memiliki pondok pesantren baru. Aguk tengah membangun rumah joglo di Jalan Parangtritis Km 8, Jogjakarta. Saat ini pembangunan Pondok Baitul Kilmah telah memasuki tahap penyelesaian. Kerangka bangunan dan atap selesai dibangun. "Tinggal pasang keramik, jendela, sama pintu. Kalau sudah selesai, seluruh santri bakal pindah ke sana," katanya. (*)
sumber: http://www.jpnn.com/read/2015/11/19/339562/Ketika-Novelis-Aguk-Irawan-%22Berjihad-Literasi%22-di-Pesantren-Baitul-Kilmah-

Rabu, 18 November 2015

Oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)

KATANYA, pengalaman adalah guru terbaik. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak ilmu yang didapat. Mungkin ini yang dibilang ilmu hikmah. Tidak hanya dari pengalaman pribadi, pelajaran juga bisa diambil dari pengalaman orang, sesuatu yang lain. Mungkin juga ini salah satu alasan ada cabang ilmu bernama pelajaran sejarah.

Dari sekian banyak yang pernah punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan “pengalaman”, tak bisa dimungkiri bahwa yang paling lama berkiprah dan mengumpulkan pengalaman adalah alam. Bukan Alam sang penyanyi lagu Mbah Dukun yang terkenal itu, melainkan alam dalam arti nature, alam semesta.

Alam semesta dengan usia curriculum vitae--nya yang milyaran tahun, bahkan lebih, dengan buminya yang sudah pernah didiami banyak jenis makhluk hidup dari masa balkadaba, dinosaurus, sampai yang paling mutakhir, manusia, mendapat kesempatan untuk belajar sangat banyak dengan proses-proses evolusinya. Dan pasti sangat banyak yang bisa kita pelajari dari “keputusan-keputusan” yang diambil oleh alam.

Sedikit contoh, kita tahu bahwa pada masa yang sama, jaring laba-laba punya kekuatan lima kali lipat lebih tangguh daripada baja. Begitu kuatnya jaring ini, hanya dibutuhkan seutas jaring laba-laba dengan diameter 10 sentimeter untuk menghentikan pesawat jumbo jet dengan kekuatan penuh.

Makhluk sesimpel lalat memiliki cara terbang yang begitu canggih, dengan manuverbility yang begitu tinggi, yang sampai saat ini belum mampu direplika oleh teknologi paling canggih yang dimiliki manusia. Banyak lagi contoh bahwa alam jauh lebih berpengalaman, jauh lebih matang, dan beberapa langkah di depan manusia dalam memecahkan masalah.

Bukan hanya pada ranah “IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)” alam memberi kita pelajaran berharga. Society system pada semut dan lebah begitu sophisticated-nya, sampai-sampai seringkali kita harus dibuat malu dengan inkompetensi kita untuk bisa bekerja sama sebaik mereka. Ada salah satu “keputusan” alam lagi yang sangat menarik yang sepertinya bisa kita ambil pelajarannya untuk memahami diri kita (dengan sudut pandang generasi) lebih dalam lagi, Seksualitas.

Mungkin kita terlalu menganggap enteng seks. Seks adalah sebuah metode di mana makhluk hidup berusaha membuat keturunannya. Dari sudut pandang evolusi, seks adalah salah satu misteri terbesar yang pernah ada. Sebenarnya ada metode lain yang juga digunakan makhluk hidup untuk meneruskan keturunan, yaitu aseksual. Pertanyaannya, kenapa lebih banyak makhluk yang menggunakan metode seksual daripada aseksual pada saat ini? Kelebihan apa yang dimiliki metode seksual dan tidak dimiliki metoda aseksual? Terus, apa hubungannya dengan “sudut pandang generasi” mumbo jumbo tadi?

Metode seksual adalah sebuah metode di mana sebentuk individual harus menemukan pasangan dengan jenis kelamin berbeda dan bekerja sama membentuk keturunan baru (produksi). Sedangkan pada metode aseksual, sebentuk individu dengan sendirinya mampu meneruskan keturunan tanpa bantuan individu yang lain, dengan kata lain individu ini menciptakan 100% copy atas dirinya sendiri (reproduksi). Mikroba, beberapa jenis tanaman, bahkan beberapa jenis reptil, menggunakan metode ini.

Secara nalar, metode aseksual jauh lebih menjanjikan untuk menjaga jumlah keturunan sebuah spesies karena kemudahannya. Tapi ternyata bukan itu yang dipilih oleh alam.

Salah satu hipotesis mengatakan bahwa dengan metode aseksual, walaupun dengan keuntungan mampu membuat keturunan dengan jumlah besar, sebuah spesies akan memiliki keseragaman genetik. Dan dengan keseragaman genetika, berarti spesies tersebut juga memiliki kerentanan yang seragam terhadap salah satu jenis parasit tertentu. Ada satu yang terjangkit parasit dan mati, maka seluruh spesies itu akan menjadi sangat potensial untuk punah.

Di lain pihak, metode seksual, walaupun kemampuan membentuk keturunan tidak terlalu besar (tidak sebesar metode aseksual), menghasilkan keturunan dengan gen-gen yang beragam karena sebuah keturunan merupakan gabungan gen kedua orang tuanya. Satu individu rentan terhadap parasit tertentu tidak berarti individu yang lain dalam spesies yang sama memiliki kerentanan serupa.

Secara teori, keanekaragaman dan metode dengan jenis produksi itu memiliki ketangguhan yang lebih tinggi untuk menghadapai berbagai masalah. Hipotesis ini telah dibuktikan benar dengan ditemukannya Potamopyrgus antipodarum. Yakni sejenis siput di Selandia Baru yang sangat spesial karena spesies ini memiliki sekaligus dua jenis cara berkembang-biak: seksual dan aseksual. menurut pengalaman alam dan eksperimen, metode produksi lebih berhasil daripada metode reproduksi.

Pendidikan. Secara esensi, pendidikan tidak begitu berbeda dari perkembangbiakan. Keduanya adalah usaha meneruskan informasi yang didapat dari sebuah generasi kepada generasi berikutnya. Pendidikan meneruskan informasi ilmu pengetahuan, berkembang biak meneruskan informasi genetiknya, tapi dengan satu perbedaan penting: transfer ilmu pengetahuan membutuhkan pemahaman otak terhadap informasi itu sendiri, transfer genetika tidak.

Karena itu dalam proses pendidikan dikenal beberapa faktor yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah proses belajar-mengajar yang efektif. Kejelasan dan kematangan ideologi pendidikan mesti tepat, metode dan praktek pendidikan juga mesti akurat. Metodologi yang terdiri dari cara pandang, alat, dan cara harus datang dari kesadaran objekif tentang esensi dan tujuan proses belajar ini.

Ada pandangan bahwa proses belajar-mengajar tidak pernah bisa lepas dari pengaruh society dimana proses ini terselenggara. Pendapat ini berasal dari asumsi bahwa sebuah proses pendidikan harus menghasilkan anak didik yang tidak kontra dengan kekuasaan, struktur sosial, dan sistem yang berlaku. Dengan tujuan itu, otomatis pendidikan menjadi sarana untuk melanggengkan apa yang sudah ada. Memproduksinya.

Di lain pihak, ada sebuah teori yang mengatakan bahwa pendidikan seharusnya membangkitkan kesadaran anak didiknya. Kesadarana gender, kesadaran kelas, dan kesadaran-kesadaran yang lain. Pendidikan seharusnya mampu memproduksi anak didiknya secara maksimal, sehingga mereka mampu mencapai hal setinggi yang mereka inginkan. Meproduksinya.

Lalu, apa yang kita miliki di dunia pendidikan pada saat ini? Setelah membaca, menulis, dan berhitung, apa lagi yang kira-kira dibutuhkan untuk mendapatkan gelar “generasi terdidik”? Kata terdidik sendiri pada saat ini berarti seseorang yang telah mendapatkan ijazah lulus dalam sebuah organisasi pendidikan yang diakui negara. Ijazah itu sendiri begitu tinggi nilainya sebagai pengukur absolut untuk menentukan posisi hierarki dalam masyarakat. Parameter untuk mendapatkan pekerjaan sampai iklan mencari jodoh tak bisa lepas dari frasa “minimal lulusan…”.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian di benak saya kemudian, seakurat itukah ijazah? Jenis pendidikan apa yang bisa terefleksikan oleh ijazah?

Awal sekolah dimulai dengan pelajaran membaca. Membaca dalam arti “sempit” adalah memahami pesan dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, dengan kemampuan membaca, kita diberi jalan untuk belajar hal-hal yang lebih banyak dan lebih luas. Saya sebut turunan kedua dari proses belajar ini sebagai pintu wacana. Turunan kedua ini termasuk ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan sebagainya.

Dalam arti yang lebih dalam, kemampuan membaca lebih berarti bagaimana kita bisa memahami orang lain dan dapat apa yang ingin diungkapkan orang lain. Berarti juga kita mampu mencerna dan memproduksi informasi yang didapat generasi sebelumnya.

Menulis dalam arti “sempit” adalah menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, kemampuan menulis memberi alat untuk terkoneksi dengan khalayak yang lebih luas dari sekedar bahasa lisan. Bersama dengan kemampuan membaca, kita dididik untuk mampu mengungkapkan sesuatu yang ingin kita ungkapkan dengan bahasa yang jelas dan struktur yang tertata.

Berhitung dalam arti “sempit” adalah mampu memahami dan memproses data dalam bentuk angka. Pada arti lebih dalam, secara eksplisit: sebuah bentuk metode matematis dalam memecahkan sebuah masalah, memberi pelajaran sistematis dalam cara berpikir. Secara implisit, metode matematis melatih logika berpikir untuk mengeliminasi grey area. Semua komponen didalamnya ada pada ranah benar-salah, tak ada kompromi. Semuanya adalah pasti, tak ada korupsi ataupun retorika pembenaran. Reproduksi pengetahuan matematis adalah wajib untuk mampu berproduksi di bidang ini dan turunannya.

Ijazah bisa didapatkan dengan sebuah tes untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh yang terdidik. Tes berupa pertanyaan dengan jawaban yang harus sesuai dengan buku referensi. Karakteristik proses pendidikan dengan tipe reproduksi. Tes ini akan sangat tepat pada bidang-bidang yang membutuhkan jawaba-jawaban absolut, seperti matematika, fisika, biologi, dan turunannya.

Yang disayangkan, metode ini tidak memberi ruang pada pengembangan pemahaman manusia (anak didik) terhadap hal-hal yang bersifat sosial. Ketika anak didik berpendapat bahwa kesempatan pendidikan di Indonesia tidak adil, berdasarkan pengalamannya yang tidak bisa masuk sekolah tertentu karena tidak mampu membayar uang, dia bisa dipastikan mendapat nilai buruk dalam tes ini, karena tentu tidak sesuai dengan buku referensi.

Sejauh ini, sosiety kita dibangun berdasarkan pemerataan tolok ukur reproduksi. Dan terbukti, anak didik akan sangat berprestasi pada bidang-bidang yang tepat dengan metode ini. Juara olimpiade matematika dan fisika, misalnya.

Tapi, apakah sistem pendidikan kita mampu menghasilkan anak didik yang kritis, yang mampu menganalisis kondisi sosial, terlatih berpikir kritis, menghargai nilai keadilan setinggi dia menilai angka rapor? Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, tentu dengan cara berpikir kritis pula.

Sudah sangat pakar kita menggunakan metode pendidikan reproduksi. Dan sepertinya sudah waktunya kita mulai memikirkan jenis “ijazah” yang mampu merefleksikan tingkat keterdidikan anak dalam mengembangkan dirinya sebagai manusia. Dibutuhkan metode yang tepat dan pemetaan yang akurat dalam sistem pendidikan kita. Bidang mana yang harus memakai cara reproduksi dan bidang mana yang harus memakai cara produksi, tentu beserta sistem “ijazah”-nya.

Tidak perlu muluk-muluk, setidaknya kita bisa memulai dengan mengajarkan dan memberi pemahaman bahwa, misalnya, sepakbola bukanlah sekedar banyak gol yang bisa dibuat, melainkan apakah kita cukup sportif dalam membuat gol itu. Sportifitas penting, karena sportifitas adalah nyawa keadilan. []

Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)______
Sumber: GATRA No. 39 Tahun XV/6 - 12 Agustus 2009

Selasa, 17 November 2015

 Konferensi Cabang PGRI Bluluk telah dilaksanakan pada Sabtu, 7 Nopember 2015. Berikut ini beberapa jepretan foto yang telah diabadikan oleh juru photo tentang serba-serbi Konfercab PGRI Tahun 2015.

  

















Pengunjung Blog

DAFTAR ISI

Arsip Blog

Flag Counter

Flag Counter

Pengikut

Breaking News

Artikel Populer Minggu Ini

Lomba

More on this category »

Esai

More on this category »

Resensi Buku

More on this category »