judul gambar
Memuat...
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Oleh : Mochamad Nurkozim*)
 
APA KABAR bapak dan ibu guru se-Kecamatan Bluluk. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Sudah tiga tahun ini saya sudah meninggalkan profesi saya sebagai guru. Namun, saya selalu mengikuti apa saja yang berkaitan dengan profesi keguruan. Karena kebetulan profesi baru saya berkaitan dengan erat dengan informasi seputar pendidikan.

Oh ya, perkenalkan nama saya Mochamad Nurkozim. Saya anak Bluluk asli. Dulu selama lima tahun saya mengajar di SDN Banjargondang. Tentunya semua tahu sekolaH itu, bukan? Kepala sekolahnya ketika itu adalah Bapak Pariadi. Tidak tahu sekarang siapa yang memimpin sekolah itu.

Saat ini saya menjadi salah satu jurnalis atau wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro. Kebetulan oleh redaksi saya di poskan di pendidikan. Jadi semua informasi mengenai pendidikan saya banyak tahu. Bahkan, (maaf) lebih dulu tahu dibanding guru. Maklum, saya bergelut dibidang informasi.

Selama tiga tahun menjadi jurnalis di Radar Bojonegoro, dua kali saya membaca karya Em. Syuhada', guru SDN Talunrejo 3 Kecamatan Bluluk. Terakhir adalah tulisannya yang berjudul Menjadi Guru Penulis, Siapa Takut? yang dimuat di rubrik dibalik buku (minggu, 6/12/2015). Judul tulisan yang sebelumnya entahlah saya lupa.

Saya sangat mengapresiasi ide Pak Em. Syuhada' tentang guru penulis. Pak Syuhada yang terhormat, ketika tulisan bapak sebelumnya dimuat sekitar 2014 silam, saya langsung membawa koran itu ke SDN Banjargondang tempat saya mengajar dulu. Harapannya, supaya guru-guru di sekolah itu terutama yang senior tergugah untuk bisa menulis seperti bapak. Namun, harapan itu pupus. Tidak ada ketertarikan sama sekali pada guru-guru disana untuk menulis.

Entah mungkin usia yang sudah tua, lalu disibukkan dengan berbagai kebutuhan. Atau karena mereka mengangap menulis itu hal yang sangat sulit.

Dulu sebelum saya menjadi jurnalis atau ketika masih jadi guru, sesekali saya menulis dan mengirimkannya ke media massa. Alhamdulillah dimuat. Meskipun tulisan saya ketika itu tidak berbobot dan tulisannya masih amburadul. Tapi saya tetap semangat berlatih.

Bagi saya menulis adalah upaya mengikat ilmu. Banyak orang bisa bicara panjang lebar menyampaikan gagasannya. Namun, tidak banyak orang yang bisa menyampaikan gagasannya melalui sebuah karya tulis. Menulis juga bisa membuat kita berfikir secara tertruktur.

Di Bojonegoro, lokasi saya bertugas menjadi jurnalis saat ini, kerap saya kagum dengan warga kota ini. Percaya atau tidak, banyak PNS guru atau pejabat yang membuat karya tulis. Tulisan mereka banyak dipublikasikan di media massa. Bahkan, Bupati Bojonegoro Suyoto tidak jarang menulis artikel dan dikirimkan ke redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro. Di Lamongan memang ada penulis-penulis yang karyanya dimuat di media masa. Namun, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Sebagai putra asli Bluluk, saya ingin terlahir guru-guru penulis asal Bluluk. Diperlukan semangat untuk itu. Tidak lupa juga minat baca warga Bluluk harus dipompa. Supaya lahir budaya literasi di kalangan para pendidik. Saya tunggu tulisan bapak ibu guru di Jawa Pos Radar Bojonegoro. (*)

*)Mochamad Nurkozim, penulis adalah Mantan Guru SDN Banjargondang Kec. Bluluk. Kini menjadi jurnalis di Jawa Pos Radar Bojonegoro. beralamat di zimradar@gmail.com

Minggu, 06 Desember 2015

Oleh: Em. Syuhada'*)

MENULIS dan membaca adalah dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan satu sama lain. Menulis tanpa membaca (baik tekstual maupun kontekstual) akan hanya melahirkan tulisan yang kering, dangkal, dan bahkan ngawur. Sebaliknya, membaca tanpa menulis mengakibatkan ide-ide yang berkeliaran hanya mengendap di dunia tanpa rupa. Jika sekelibatan ide itu dimunculkan melalui lisan umpamanya, boleh jadi ia akan melayang-layang sekejap saja termakan waktu. Maka betul jika pepatah arab menuturkan,”ilmu ibarat hewan buruan, tulisan adalah tali kekangnya. Maka, ikatlah hewan buruanmu dengan tali kekang yang kukuh.”

Agak menghela nafas ketika saya membaca tulisan M. Iqbal Dawami dalam rubrik ini minggu yang lalu (Menjadi Guru yang Menulis, 29/11/2015). Ditengah euforia ucapan selamat yang selalu mengiringi perayaan hari guru tiap tanggal 25 November, Iqbal menyentil kondisi para guru kita yang sebagaian besar masih belum memiliki gereget dalam dunia tulis-menulis. 

Kata Iqbal, Pak Guru lebih memilih berbicara di depan murid-muridnya ketimbang suntuk mengolah kata dalam upaya transfer pengetahuan. Kalau toh misalkan ada aktifitas kepenulisan, itu sejatinya hanya menggugurkan ‘kewajiban’ demi kenaikan pangkat semata. Menulis belum menjadi kebiasaan dalam kegiatan pembelajaran. Jika pangkat telah naik, maka menulis akan mandek sampai pada kenaikan pangkat berikutnya. Begitu seterusnya.

Sayangnya, apa yang disampaikan MID itu tidak disertai dengan data statistik yang memadai. Terkait hal itulah, saya tiba-tiba teringat data lama tentang kondisi pengunjung perpustakaan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tujuh tahun silam, tepatnya september 2008 di Mojokerto, dari total pengunjung perpustakaan sejumlah 14.610 orang, jumlah guru yang tercatat mengunjungi perpustakaan hanya 60 guru laki-laki dan 170 guru perempuan. Peringkat tertinggi didominasi oleh kalangan pelajar (6.200 orang) dan mahasiswa (1.510 orang), serta masyarakat umum (5.830 orang). (Radar Mojokerto, 12/10/2008)

Pertanyaannya, ada apa dengan guru? Mengapa kehadirannya di perpustakaan begitu minim? Pertanyaan tersebut penting dijawab karena guru adalah sosok yang diharapkan mampu meningkatkan minat baca di kalangan anak didik. Bagaimana mungkin bisa meningkatkan ghirah membaca jika pak guru sendiri tidak memiliki minat baca?

Mungkin data tersebut tak bisa dijadikan barometer, karena bisa saja pak guru memiliki perpustakaan pribadi yang jauh lebih representatif dibanding perpustakaan umum yang kadang tak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi bukankah ada kemungkinan, bahwa ketika perpustakaan bukan menjadi tempat utama erat kaitannya dengan minat baca yang memang rendah. Dus, jangan harapkan pak guru bisa dan mau menulis, jika kegiatan membaca belum menjadi kegiatan utama dalam nafas sehari-harinya.

Dari sini dapat dipahami, ketika Permen PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 yang mengatur Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya mulai diterapkan, banyak guru kelabakan dan kebakaran jenggot. Bahkan PGRI selaku organisasi yang mewadahi guru berjuang keras agar permen tersebut direvisi. Bagaimana tidak. Sejak permen tersebut diterapkan tahun 2013, tidak sedikit guru yang tertahan di pangkat tertentu karena tak bisa mengumpulkan kredit point dari unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif sebagaimana yang dipersyaratkan.

Tengok misalnya kasus yang terjadi di Tasikmalaya baru-baru ini. Dari 9000 guru yang mengusulkan kenaikan pangkat, hanya 271 yang dinyatakan lolos, sementara 8.729 sisanya gagal disebabkan materi yang digunakan untuk penulisan karya tulis lebih banyak copy paste. Padahal plagiasi adalah kejahatan intelektual yang semestinya tidak pantas dilakukan, apalagi oleh seorang guru. Sungguh memprihatinkan bukan?

Maka tak ada jalan lain, sudah saatnya pak guru berbenah. Sudah waktunya pak guru melirik dunia tulis agar desah keilmuan yang dimilikinya melampaui ruang dan waktu. Bukan hanya sekedar urusan naik pangkat, tapi ada kenikmatan tersendiri yang bisa dirasakan ketika seseorang berasyik-masyuk dengan rerimbunan jagad kata, dan tentu saja pak guru bisa mewariskan ilmu pada generasi sesudahnya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan bergabung di komunitas tertentu yang concern terhadap kepenulisan, baik offline maupun online. Disamping PGRI, juga ada Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA). AGUPENA adalah asosiasi yang didirikan oleh para pemenang lomba penulisan naskah buku bahan bacaan yang diselenggarakan pusat perbukuan itu memiliki semangat membangun peradaban dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kegiatan penulisan karya tulis.
Maka dari itulah, tak usah ditunda-tunda. Menulislah sekarang juga, wahai Pak dan Bu Guru, agar namamu abadi sepanjang zaman.(*)

*) Em. Syuhada’, Guru SDN Talunrejo 3, Sekretaris Umum PGRI Cabang Bluluk Lamongan
Sumber : Rubrik dibalik buku Jawa Pos, 6/12/2015

Jumat, 27 November 2015

Oleh: Idris Apandi*)

SANGAT menarik dan inspiratif acara Mata Najwa yang disiarkan di Metro TV tanggal 26 Nopember 2015.  Acara yang bertajuk “Belajar dari Ki Hajar Dewantara”  tersebut menghadirkan sejumlah tokoh sebagai narasumber antara lain pakar pendidikan Ki Supriyoko, Litasari dan Ganawati, dua cucu Ki Hajar Dewantara yang pernah merasakan dididik langsung oleh Bapak Pendidikan Indonesia tersebut, Mendikbud Anies Baswedan, penulis dan aktivis pendidikan Bukik Setiawan, dan sejumlah guru berprestasi seperti Badriah, Guru Bahasa Inggris di SMAN 2 Cianjur Jawa Barat, Tomi Zapino, guru IPA di SMAN 2 Seruay Aceh, dan Istiqomah Al Maki, Guru Bahasa Indonesia dari SMAN 1 Batu Jawa Timur, serta sejumlah narasumber lainnya.

Pada acara tersebut, dengan gaya khasnya, Najwa Shihab, sang pembawa acara menyampaikan berbagai pertanyaan yang kritis kepada tiap-tiap narasumber. Dari uraian dialog pada acara tersebut, Saya melihat ada empat catatan yang bisa diambil. Pertama, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa secara filosofis dan operasional pendidikan Indonesia harus mengacu kepada ajaran dan pikiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa sekolah harus menjadi sebuah taman belajar bagi setiap peserta didik.

Sekolah sebagai sebuah taman belajar akan mewujudkan sebuah pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menantang pada setiap anak didik. Anak didik tidak sabar ketika menunggu waktu belajar, nyaman dan betah selama mengikuti kegiatan belajar, dan merasa berat hati jika waktu belajar berakhir. Litasari dan Ganawati, dua cucu Ki Hajar Dewantara mengaku bahwa mereka sangat senang diajar oleh kakeknya tersebut karena mengajari mereka matematika sambil bermain di taman sekolah sehingga pembelajaran tidak membosankan.
Kedua, pendidikan harus melibatkan tiga institusi yang dikenal sebagai “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu, keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga institusi pendidikan tersebut harus bersinergi, seiring sejalan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan, mengutip ucapan Ki Hajar Dewantara, sang host Najwa Shihab mengatakan bahwa “tiap-tiap orang menjadi guru dan tiap rumah menjadi perguruan.” Selanjutnya Ki Supriyoko menambahkan bahwa Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa “keluarga adalah sekolah yang pertama dan ibu adalah guru adalah pendidik yang utama.”

Ki Hajar Dewantara adalah pemikir pendidikan modern. Bukik Setiawan mengatakan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat update pada zamannya bahkan melampaui zamannya. Pemikir pendidikan barat seperti Montessory pada tahun 1940-an pernah berkunjung ke Perguruan Taman Siswa untuk belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara justru banyak digunakan di negara eropa seperti Finlandia yang saat ini dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan paling baik di dunia.

Bukik Setiawan menyampaikan bahwa anak jangan diposisikan sebagai kertas kosong, tetapi sebagai seorang manusia yang aktif mencari pengetahuan dan belajar secara mandiri, filsafat pendidikan yang mendasarinya adalah konstruktivisme. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa ganjaran dan hukuman (reward and punishment) tidak tepat digunakan untuk mengajarkan tanggung jawab dan menegakkan disiplin kepada anak didik. Ki Hajar mengatakan bahwa “ganjaran dan hukuman jangan diberikan agar anak tidak berperilaku karena sekedar mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman.” Selanjutnya Ki Hajar berpendapat bahwa “yang menghancurkan budi pekerti adalah paksaan dan hukuman.” Dengan kata lain, setiap anak didik harus didik secara humanis, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan karena pada dasarnya pendidikan adalah sebuah proses untuk “memanusiakan manusia.”

Ketiga, untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, diperlukan guru yang kreatif dan inovatif, guru yang mau menjadi pembelajar sepanjang hayat, guru yang mau melakukan refleksi diri terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya, dan guru yang mau meningkatkan profesionalismenya secara berkelanjutan. Guru-guru yang kreatif dan inovatif adalah guru yang tidak kehabisan ide untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, berani tampil beda, mau berpikir terbuka, mau menerima perubahan, berpikir out of the box, berani keluar dari pakem-pakem administrasi dan prosedur pembelajaran yang kadang mengekang, dan mau mencari serta mencoba pendekatan, model, metode, strategi, dan teknik pembejajaran yang baru dalam rangka membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Sosok-sosok seperti Badriah, Tomi Zapino, dan Istiqomah Al Maky adalah tiga dari sekian banyak guru yang kreatif dan inovatif. Kreativitas dan inovasi yang mereka lakukan dalam pembelajaran mengantarkan mereka menjadi guru berprestasi dan berkesempatan untuk tampil pada acara Mata Najwa untuk sharing pengalaman terbaiknya (best practice) dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga mampu meningkatkan minat, motivasi, kepercayaan diri, dan prestasi belajar anak-anak didiknya.

Badriah, Juara I Guru Berprestasi Jawa Barat, yang sehari-hari mengajar bahasa Inggris di SMAN 2 Cianjur menggunakan metode dialog jurnal. Metode tersebut digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan siswa dalam menulis menggunakan bahasa Inggris, karena banyak siswanya yang tidak berani menulis menggunakan bahasa Inggris dengan alasan bingung atau takut salah.

Di setiap akhir pelajaran, bu Badriah memberikan kesempatan selama sepuluh menit kepada setiap siswanya untuk menuliskan pengalaman atau unek-uneknya dalam sebuah jurnal menggunakan bahasa Inggris. Bu Badriah menekankan kepada siswa untuk menulis dengan menggunakan bahasa Inggris ala Cianjur, tanpa memperhatikan grammar. Yang penting siswa memiliki kemauan untuk menulis, dan yang penting dapat dipahami maksudnya.

Untuk mendorong para siswa untuk mau menulis, bu Badriah membolehkan siswa untuk menggakan 10 kata kata selain selain bahasa Inggris, seperti bahasa Indonesia atau bahasa Sunda. Dan seiring dengan perkembangan zaman, maka tulisan-tulisan yang pada awalnya ditulisan pada jurnal, maka tulisan tersebut ditulis pada ditulis melalui media sosial seperti WA, BBM, atau FB messenger karena dinilai lebih praktis. Penggunaan metode tersebut terbukti mampu meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan siswa menulis bahasa Inggris secara bertahap selama delapan bulan.

Tomi Zapino, guru berprestasi dari Seruay Aceh menggunakan metode simulasi “dot to dot” untuk meningkatkan minat dan kemampuan siswa pada pelajaran IPA. Metode tersebut juga merupakan sebuah inovasi dalam pelaksanaan tes hasil belajar dimana selama ini siswa terlihat bosan dalam mengerjakan soal-soal yang dengan model yang konvensional dimana Tomi menyusun soal dalam bentuk titik-titik (dot) yang menghubungkan antara soal yang satu dengan soal lainnya hingga membentuk sebuah pola. Dengan demikian, para siswa dapat mengerjakan soal-soal test dengan lebih menyenangkan sekaligus menantang.

Istiqomah Al Maky, guru berprestasi asal SMAN 1 Batu Jawa Timur dikenal sebagai guru yang “anti” mengajar dengan menggunakan buku paket dari pemerintah karena setelah dianalisis strukturnya isinya dinilai kurang relevan dengan minat dan kebutuhan siswa. Beliau lebih memilih untuk menyusun bahan sendiri dan melakukan strategi agar para siswanya bisa dengan mudah menganalisis isi cerpen, antara lain mengajak siswa ke perpustakaan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memilih cerpen yang disenanginya lalu menganalisisnya.

Istiqomah mengaku lebih banyak mengajarkan materi pelajaran secara praktek daripada secara teoritik, mendorong setiap siswa untuk aktif berdiskusi sehingga prestasi siswa-siswanya lebih baik. Beliau tidak suka melakukan ulangan berupa test soal dengan format pilihan ganda karena menurutnya, hidup itu tidak ada pilihan a, b, c, d, e, serta meminimalisasi penggunaan kertas ketika ulangan. Dia bisa mengoreksi ulangan siswa dimana saja dan kapan saja.

Di akhir sesi dialog, Istiqomah membacakan sebuah puisi yang ditulis oleh salah seorang siswanya yang membuat seluruh orang yang hadir di studio tertegun mendengarkan bait demi bait puisi yang dibacanya dengan sangat penuh penghayatan dan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Hadirin pun bertepuk tangan ketika Bu Istiqomah selesai membaca puisi.

Berkaca kepada cara ketiga guru tersebut diatas, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa mereka masing-masing memiliki cara tersendiri dan yang paling penting adalah mereka mengajar dengan sepenuh hati. Jika guru mengajar dengan sepenuh hati, maka siswa pun akan belajar dengan sepenuh hati.

Keempat, Mendikbud Anies Baswedan mengajak kepada seluruh guru di Indonesia untuk menjadi guru yang sepenuh hati, guru yang mengispirasi, dan guru yang memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada setiap anak didik untuk berkreasi. Guru-guru pun harus terus belajar dan belajar kapan pun, dimanapun, dan dari manapun dalam rangka memberikan layanan pendidikan terbaik kepada anak-didiknya. Maju terus guru Indonesia untuk pendidikan Indonesia yang main baik.

Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.

Sabtu, 21 November 2015

Tanpa uji sertifikasipun, kalau para guru mempersembahkan hidupnya secara total untuk mewujudkan proses pendidikan yang berkualitas, produk pendidikan akan dapat dipertanggungjawabkan pada kurun waktu kedepan. Dan yakinlah, ketika hal itu dilakukan dengan formulasi hati yang selesai – meminjam bahasanya Emha –, barakah Allah akan berseliweran menaungi kehidupan. Masih percayakah para guru dengan manajemen ’barakah’ ditengah hiruk pikuk zaman yang serba mengedepankan rasionalitas seperti sekarang ini?
TAK dimungkiri, tingkat kemajuan sebuah bangsa tak bisa dilepaskan dari baik buruknya proses pendidikan yang dilaksanakan. Sebab, pendidikan adalah upaya meletakkan manusia pada tingkat tertinggi dari maqam kemanusiaan. Tanpa melakukan proses pendidikan, manusia hanya akan berujud manusia dalam dataran fisik. Namun sesungguhnya, ia sama sekali tak berbeda dengan makhluk Tuhan yang lain, bahkan mungkin rendah dari itu. Itulah sebabnya, jikalau suatu bangsa menginginkan dirinya menjadi bangsa yang maju dan beradab, syarat utama yang harus dipenuhi adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan mengedepankan kualitas pendidikan dalam segala aspeknya .

Dalam konteks inilah, pelaksanaan sertifikasi guru sebagai implementasi Undang-undang Guru dan Dosen menemukan relevansinya. Sebagaimana diketahui, pemerintah Indonesia mulai berpikir meningkatkan mutu pendidikan dengan menerbitkan Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut, selain bertujuan meningkatkan mutu guru dan dosen sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan di tingkat praktis, langkah ini juga bermuara pada peningkatan kesejahteraan guru secara finansial. Hal penting yang patut dipertanyakan adalah, apakah pelaksanaan sertifikasi itu akan secara otomatis meningkatkan kualitas kompetensi guru, untuk selanjutnya meningkatkan mutu pendidikan? Adakah jaminan bahwa ketika kesejahteraan hidup telah terpenuhi, kualitas guru juga akan lebih bermutu? Tidakkah sertifikasi itu dimaknai oleh sebagian guru dengan “kegiatan mengumpulkan sertifikat” yang ujung-ujungnya hanya keinginan mendapatkan kesejahteraan semata, tanpa pernah memiliki keinginan meningkatkan kompetensi secara signifikan?

Kegamangan tersebut setidaknya dilatarbelakangi oleh fakta di lapangan, betapa banyak peserta sertifikasi yang melakukan kegiatan tak terpuji, yang tentu saja semakin mencoreng wajah dunia pendidikan kita. Seperti kasus yang terjadi di Universitas Negeri Malang beberapa waktu yang lalu (Surya, 23/09/07), banyak ditemukan peserta uji sertifikasi yang melakukan kecurangan demi kecurangan. Memalsukan piagam dengan memanfaatkan piranti tekhnologi semacam scanner bukan hal yang sulit pada masa ini, penelitian tindakan kelas (PTK) yang ternyata menjiplak karya milik orang lain menjadikan guru sebagai plagiator yang tentu saja sebuah kejahatan intelektual yang tragis. Bahkan kasus yang lebih parah adalah ditemukannya peserta dari Madiun yang melakuan semacam money politik dengan menyelipkan uang kertas senilai Rp. 100.000,- diantara berkas portofolio Bukankah hal semacam ini bertolak belakang dengan tujuan utama sertifikasi yang sejatinya adalah meningkatkan kualitas mutu guru sebagai pendidik yang profesional?

Pada titik ini, makalah yang disampaikan Dr. Fasli Jalal, Phd. pada seminar pendidikan yang diselenggarakan PPS Unair, tanggal 28 April 2007 di Surabaya patut dijadikan pegangan bagi guru yang sedang atau akan melakukan sertifikasi. Menurut Direktur Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional ini, sertifikasi sebagai upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan hendaknya dipahami secara utuh. Sejak awal harus ada penekanan, khususnya dikalangan para pendidik, bahwa sertifikasi bukanlah yang utama. Sertifikasi hanyalah sarana bagi guru untuk sampai pada keadaan tertentu, yang dalam hal ini adalah peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, harus ada pemisahan yang jelas antara tujuan yang akan dicapai dengan alat yang mendukung pencapaian tujuan tersebut. Kalau kemudian ada peningkatan kesejahteraan guru dalam hal tunjangan profesi, hal itu semata-mata konsekuensi logis dari kemampuan yang dimaksud.

Namun sayangnya, dalam beberapa kasus yang ditemui dalam pelaksanaan uji sertifikasi yang telah berjalan selama ini, entah disadari atau tidak seringkali ditemui para guru terjebak pada kedangkalan cara berfikir dengan meletakkan sertifikasi sebagai tujuan yang harus dicapai. Kasus yang terjadi di Malang sebagaimana yang dituturkan diatas hanyalah sekedar contoh. Betapa ketika sertifikasi itu menjadi tujuan utama, para guru rela melakukan berbagai cara – termasuk yang tidak dibenarkan sekalipun – demi memuluskan keinginannya mendapatkan tunjangan profesi. Pada titik ini, tidak penting apakah ia memiliki kompetensi atau tidak. Bahkan ketika pelaksanaan seminar pendidikan yang menjamur mengiringi pelaksanaan sertifikasi, insiden buruk kerap terjadi. Tentang kesediaan guru mengeluarkan sejumlah uang tidak dalam rangka meningkatkan kompetensi, tapi hanya sekedar untuk memperoleh sertifikat, dan lain sebagainya. Yang terpenting bagi guru model ini adalah bagaimana bisa lulus, sehingga ketika sertifikat pendidik telah tergenggam di tangan, ia memiliki kemungkinan mendapatkan kehidupan yang layak dengan memperoleh tunjangan profesi. Sungguh ironis memang!

Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh agar pendidikan di Indonesia mendapatkan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan adalah kembali pada masing-masing guru untuk membangun komitmen dengan menyadari posisinya masing-masing. Guru memang memiliki fungsi strategis dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung-jawab. Permasalahannya kemudian, bagaimana seorang guru mampu menjalankan fungsi semacam itu jika ia sendiri tidak memiliki karakter sebagaimana yang disebutkan dalam undang-undang. Analoginya sederhana, mungkinkah seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain jika ia tak memiliki sesuatu untuk diberikan? Mungkinkah seseorang memberikan uang jika ia sama sekali tak memiliki uang? Hal semacam ini patut menjadi renungan kita bersama, terutama para pendidik yang ketercerahan kehidupan masa depan terletak dipundaknya.
Menjadi guru mungkin bukan pilihan, tapi ketika seorang manusia telah terseret dalam arus pusaran takdir dengan keniscayaan menjadi guru tanpa kemampuan sedikitpun menghindar dari keniscayaan semacam itu, pada saat yang bersamaan ia harus segera menyadari bahwa profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Bahkan saking mulianya profesi itu, Sayyidina Ali yang merupakan pintu ilmu, bersedia menjadi hamba seseorang yang mengajarkan satu huruf kepadanya. Maka alangkah naifnya jika hanya demi mengejar perolehan materi semata, guru bersedia melakukan tindakan tak terpuji yang mengesampingkan aspek moralitas.
Saya tak mengatakan bahwa uji sertifikasi bukan hal yang penting. Tapi percayalah, tanpa uji sertifikasipun, kalau para guru mempersembahkan hidupnya secara total dengan kemauan mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, produk pendidikan akan dapat dipertanggungjawabkan pada kurun waktu kedepan. Dan yakinlah, ketika hal itu dilakukan dengan formulasi hati yang selesai – meminjam bahasanya Emha –, barakah Allah akan berseliweran menaungi kehidupan kita semua. Masih percayakah para guru dengan manajemen ’barakah’ ditengah hiruk pikuk zaman yang serba mengedepankan rasionalitas seperti sekarang ini?***

*) arsip tulisan lama oleh Em. Syuhada', Guru MI Roudlotun Nasyiin 2 Mojokerto
dimuat Majalah MPA Jatim, September 2007

Rabu, 18 November 2015

Oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)

KATANYA, pengalaman adalah guru terbaik. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak ilmu yang didapat. Mungkin ini yang dibilang ilmu hikmah. Tidak hanya dari pengalaman pribadi, pelajaran juga bisa diambil dari pengalaman orang, sesuatu yang lain. Mungkin juga ini salah satu alasan ada cabang ilmu bernama pelajaran sejarah.

Dari sekian banyak yang pernah punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan “pengalaman”, tak bisa dimungkiri bahwa yang paling lama berkiprah dan mengumpulkan pengalaman adalah alam. Bukan Alam sang penyanyi lagu Mbah Dukun yang terkenal itu, melainkan alam dalam arti nature, alam semesta.

Alam semesta dengan usia curriculum vitae--nya yang milyaran tahun, bahkan lebih, dengan buminya yang sudah pernah didiami banyak jenis makhluk hidup dari masa balkadaba, dinosaurus, sampai yang paling mutakhir, manusia, mendapat kesempatan untuk belajar sangat banyak dengan proses-proses evolusinya. Dan pasti sangat banyak yang bisa kita pelajari dari “keputusan-keputusan” yang diambil oleh alam.

Sedikit contoh, kita tahu bahwa pada masa yang sama, jaring laba-laba punya kekuatan lima kali lipat lebih tangguh daripada baja. Begitu kuatnya jaring ini, hanya dibutuhkan seutas jaring laba-laba dengan diameter 10 sentimeter untuk menghentikan pesawat jumbo jet dengan kekuatan penuh.

Makhluk sesimpel lalat memiliki cara terbang yang begitu canggih, dengan manuverbility yang begitu tinggi, yang sampai saat ini belum mampu direplika oleh teknologi paling canggih yang dimiliki manusia. Banyak lagi contoh bahwa alam jauh lebih berpengalaman, jauh lebih matang, dan beberapa langkah di depan manusia dalam memecahkan masalah.

Bukan hanya pada ranah “IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)” alam memberi kita pelajaran berharga. Society system pada semut dan lebah begitu sophisticated-nya, sampai-sampai seringkali kita harus dibuat malu dengan inkompetensi kita untuk bisa bekerja sama sebaik mereka. Ada salah satu “keputusan” alam lagi yang sangat menarik yang sepertinya bisa kita ambil pelajarannya untuk memahami diri kita (dengan sudut pandang generasi) lebih dalam lagi, Seksualitas.

Mungkin kita terlalu menganggap enteng seks. Seks adalah sebuah metode di mana makhluk hidup berusaha membuat keturunannya. Dari sudut pandang evolusi, seks adalah salah satu misteri terbesar yang pernah ada. Sebenarnya ada metode lain yang juga digunakan makhluk hidup untuk meneruskan keturunan, yaitu aseksual. Pertanyaannya, kenapa lebih banyak makhluk yang menggunakan metode seksual daripada aseksual pada saat ini? Kelebihan apa yang dimiliki metode seksual dan tidak dimiliki metoda aseksual? Terus, apa hubungannya dengan “sudut pandang generasi” mumbo jumbo tadi?

Metode seksual adalah sebuah metode di mana sebentuk individual harus menemukan pasangan dengan jenis kelamin berbeda dan bekerja sama membentuk keturunan baru (produksi). Sedangkan pada metode aseksual, sebentuk individu dengan sendirinya mampu meneruskan keturunan tanpa bantuan individu yang lain, dengan kata lain individu ini menciptakan 100% copy atas dirinya sendiri (reproduksi). Mikroba, beberapa jenis tanaman, bahkan beberapa jenis reptil, menggunakan metode ini.

Secara nalar, metode aseksual jauh lebih menjanjikan untuk menjaga jumlah keturunan sebuah spesies karena kemudahannya. Tapi ternyata bukan itu yang dipilih oleh alam.

Salah satu hipotesis mengatakan bahwa dengan metode aseksual, walaupun dengan keuntungan mampu membuat keturunan dengan jumlah besar, sebuah spesies akan memiliki keseragaman genetik. Dan dengan keseragaman genetika, berarti spesies tersebut juga memiliki kerentanan yang seragam terhadap salah satu jenis parasit tertentu. Ada satu yang terjangkit parasit dan mati, maka seluruh spesies itu akan menjadi sangat potensial untuk punah.

Di lain pihak, metode seksual, walaupun kemampuan membentuk keturunan tidak terlalu besar (tidak sebesar metode aseksual), menghasilkan keturunan dengan gen-gen yang beragam karena sebuah keturunan merupakan gabungan gen kedua orang tuanya. Satu individu rentan terhadap parasit tertentu tidak berarti individu yang lain dalam spesies yang sama memiliki kerentanan serupa.

Secara teori, keanekaragaman dan metode dengan jenis produksi itu memiliki ketangguhan yang lebih tinggi untuk menghadapai berbagai masalah. Hipotesis ini telah dibuktikan benar dengan ditemukannya Potamopyrgus antipodarum. Yakni sejenis siput di Selandia Baru yang sangat spesial karena spesies ini memiliki sekaligus dua jenis cara berkembang-biak: seksual dan aseksual. menurut pengalaman alam dan eksperimen, metode produksi lebih berhasil daripada metode reproduksi.

Pendidikan. Secara esensi, pendidikan tidak begitu berbeda dari perkembangbiakan. Keduanya adalah usaha meneruskan informasi yang didapat dari sebuah generasi kepada generasi berikutnya. Pendidikan meneruskan informasi ilmu pengetahuan, berkembang biak meneruskan informasi genetiknya, tapi dengan satu perbedaan penting: transfer ilmu pengetahuan membutuhkan pemahaman otak terhadap informasi itu sendiri, transfer genetika tidak.

Karena itu dalam proses pendidikan dikenal beberapa faktor yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah proses belajar-mengajar yang efektif. Kejelasan dan kematangan ideologi pendidikan mesti tepat, metode dan praktek pendidikan juga mesti akurat. Metodologi yang terdiri dari cara pandang, alat, dan cara harus datang dari kesadaran objekif tentang esensi dan tujuan proses belajar ini.

Ada pandangan bahwa proses belajar-mengajar tidak pernah bisa lepas dari pengaruh society dimana proses ini terselenggara. Pendapat ini berasal dari asumsi bahwa sebuah proses pendidikan harus menghasilkan anak didik yang tidak kontra dengan kekuasaan, struktur sosial, dan sistem yang berlaku. Dengan tujuan itu, otomatis pendidikan menjadi sarana untuk melanggengkan apa yang sudah ada. Memproduksinya.

Di lain pihak, ada sebuah teori yang mengatakan bahwa pendidikan seharusnya membangkitkan kesadaran anak didiknya. Kesadarana gender, kesadaran kelas, dan kesadaran-kesadaran yang lain. Pendidikan seharusnya mampu memproduksi anak didiknya secara maksimal, sehingga mereka mampu mencapai hal setinggi yang mereka inginkan. Meproduksinya.

Lalu, apa yang kita miliki di dunia pendidikan pada saat ini? Setelah membaca, menulis, dan berhitung, apa lagi yang kira-kira dibutuhkan untuk mendapatkan gelar “generasi terdidik”? Kata terdidik sendiri pada saat ini berarti seseorang yang telah mendapatkan ijazah lulus dalam sebuah organisasi pendidikan yang diakui negara. Ijazah itu sendiri begitu tinggi nilainya sebagai pengukur absolut untuk menentukan posisi hierarki dalam masyarakat. Parameter untuk mendapatkan pekerjaan sampai iklan mencari jodoh tak bisa lepas dari frasa “minimal lulusan…”.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian di benak saya kemudian, seakurat itukah ijazah? Jenis pendidikan apa yang bisa terefleksikan oleh ijazah?

Awal sekolah dimulai dengan pelajaran membaca. Membaca dalam arti “sempit” adalah memahami pesan dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, dengan kemampuan membaca, kita diberi jalan untuk belajar hal-hal yang lebih banyak dan lebih luas. Saya sebut turunan kedua dari proses belajar ini sebagai pintu wacana. Turunan kedua ini termasuk ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan sebagainya.

Dalam arti yang lebih dalam, kemampuan membaca lebih berarti bagaimana kita bisa memahami orang lain dan dapat apa yang ingin diungkapkan orang lain. Berarti juga kita mampu mencerna dan memproduksi informasi yang didapat generasi sebelumnya.

Menulis dalam arti “sempit” adalah menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, kemampuan menulis memberi alat untuk terkoneksi dengan khalayak yang lebih luas dari sekedar bahasa lisan. Bersama dengan kemampuan membaca, kita dididik untuk mampu mengungkapkan sesuatu yang ingin kita ungkapkan dengan bahasa yang jelas dan struktur yang tertata.

Berhitung dalam arti “sempit” adalah mampu memahami dan memproses data dalam bentuk angka. Pada arti lebih dalam, secara eksplisit: sebuah bentuk metode matematis dalam memecahkan sebuah masalah, memberi pelajaran sistematis dalam cara berpikir. Secara implisit, metode matematis melatih logika berpikir untuk mengeliminasi grey area. Semua komponen didalamnya ada pada ranah benar-salah, tak ada kompromi. Semuanya adalah pasti, tak ada korupsi ataupun retorika pembenaran. Reproduksi pengetahuan matematis adalah wajib untuk mampu berproduksi di bidang ini dan turunannya.

Ijazah bisa didapatkan dengan sebuah tes untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh yang terdidik. Tes berupa pertanyaan dengan jawaban yang harus sesuai dengan buku referensi. Karakteristik proses pendidikan dengan tipe reproduksi. Tes ini akan sangat tepat pada bidang-bidang yang membutuhkan jawaba-jawaban absolut, seperti matematika, fisika, biologi, dan turunannya.

Yang disayangkan, metode ini tidak memberi ruang pada pengembangan pemahaman manusia (anak didik) terhadap hal-hal yang bersifat sosial. Ketika anak didik berpendapat bahwa kesempatan pendidikan di Indonesia tidak adil, berdasarkan pengalamannya yang tidak bisa masuk sekolah tertentu karena tidak mampu membayar uang, dia bisa dipastikan mendapat nilai buruk dalam tes ini, karena tentu tidak sesuai dengan buku referensi.

Sejauh ini, sosiety kita dibangun berdasarkan pemerataan tolok ukur reproduksi. Dan terbukti, anak didik akan sangat berprestasi pada bidang-bidang yang tepat dengan metode ini. Juara olimpiade matematika dan fisika, misalnya.

Tapi, apakah sistem pendidikan kita mampu menghasilkan anak didik yang kritis, yang mampu menganalisis kondisi sosial, terlatih berpikir kritis, menghargai nilai keadilan setinggi dia menilai angka rapor? Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, tentu dengan cara berpikir kritis pula.

Sudah sangat pakar kita menggunakan metode pendidikan reproduksi. Dan sepertinya sudah waktunya kita mulai memikirkan jenis “ijazah” yang mampu merefleksikan tingkat keterdidikan anak dalam mengembangkan dirinya sebagai manusia. Dibutuhkan metode yang tepat dan pemetaan yang akurat dalam sistem pendidikan kita. Bidang mana yang harus memakai cara reproduksi dan bidang mana yang harus memakai cara produksi, tentu beserta sistem “ijazah”-nya.

Tidak perlu muluk-muluk, setidaknya kita bisa memulai dengan mengajarkan dan memberi pemahaman bahwa, misalnya, sepakbola bukanlah sekedar banyak gol yang bisa dibuat, melainkan apakah kita cukup sportif dalam membuat gol itu. Sportifitas penting, karena sportifitas adalah nyawa keadilan. []

Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)______
Sumber: GATRA No. 39 Tahun XV/6 - 12 Agustus 2009

Sabtu, 14 November 2015

Oleh: Em. Syuhada')
PERBINCANGAN seputar pendidikan memang selalu menarik. Diskusi tentangnya menawarkan berbagai pintu kemungkinan yang tak habis digali, bahkan mungkin tak pernah selesai. Konsep belajar sepanjang hayat (long live education) atau dalam terminologi islam ‘belajarlah sejak dalam kandungan sampai ke liang lahat’ adalah sepenggal bukti bahwa pendidikan identik dengan kemanusiaan. Selama kehidupan ada, selama itu pula pendidikan harus tetap dilangsungkan demi mempertahankan identitas kemanusiaan. 

Dewasa ini, buruknya mutu pendidikan di Indonesia menjadi kenyataan yang tak hanya memprihatinkan, bahkan menjadi persoalan serius yang harus menjadi pemikiran bersama. Berbagai riset terkait dunia pendidikan meletakkan Indonesia pada kenyataan yang mengenaskan. Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 lalu menyebutkan, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Mereka lebih memilih menonton TV (85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id). 

Kondisi serupa dialami juga oleh guru di wilayah Mojokerto. Data pengunjung perpustakaan di Kota Mojokerto sampai September 2008 menunjukkan, dari total pengunjung sejumlah 14.610 orang, guru sebagai sosok yang diharapkan mampu meningkatkan minat baca di kalangan peserta didik justru terbilang sangat minim. Jumlah guru yang tercatat mengunjungi perpustakaan sebanyak 230 orang dengan rincian 60 guru laki-laki dan 170 guru perempuan. Dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) bahkan lebih parah, yakni 140 orang. Peringkat tertinggi didominasi oleh kalangan pelajar (6.200 orang), mahasiswa (1.510 orang), masyarakat umum (5.830 orang), serta kalangan swasta (700 orang). (Radar Mojokerto, 12/10/2008) 

Meski bersifat lokal, kondisi tersebut patut disayangkan. Sebab, guru adalah sosok yang tak boleh bosan melakukan penjelajahan intelektual. Keberadaan guru yang belum menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk memperluas cakrawala pemikiran tak bisa dipandang remeh begitu saja. Perpustakaan identik dengan membaca. Ketika guru enggan ke perpustakaan, ada kemungkinan ia kurang memiliki greget untuk mengembangkan potensi keguruannya. Padahal, dengan banyak membaca, guru akan mendapatkan ide-ide baru sehingga bisa melahirkan berbagai terobosan kreatif untuk mendongkrak kualitas peserta didik sesuai dengan profesi yang digelutinya.

Menjadi Guru Kreatif
Di era reformasi ini, upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan menunjukkan geliat yang sedikit menggembirakan. Salah satunya dengan menerbitkan Undang-undang No.14 Tahun 2005 yang melindungi hak guru dan dosen sebagai pekerja profesional. Undang-undang yang merupakan embrio pelaksanaan sertifikasi tersebut, selain bertujuan meningkatkan mutu guru dan dosen sebagai pelaksana pendidikan di tingkat praktis, juga bermuara pada peningkatan kesejahteraan guru secara finansial. Hal penting yang patut dicatat, pelaksanaan sertifikasi bukanlah tujuan yang harus dicapai, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Maka, sudah selayaknya jika sertifikasi tidak dimaknai oleh guru dengan “kegiatan mengumpulkan sertifikat”, yang ujung-ujungnya hanya keinginan mendapatkan kesejahteraan finansial semata. 

Yang harus dicermati dalam pelaksanaan sertifikasi adalah komponen karya pengembangan profesi yang seringkali tak bisa dipenuhi. Alih-alih melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau menulis buku pelajaran, bahkan karya tulis sebangsa artikelpun kadang jarang dilakukan. Saya sendiri sering menjumpai, untuk melengkapi berkas portofolio, sebagian guru kerap memaksakan diri memasukkan karya tulis yang sejatinya tidak termasuk dalam kategori (berupa buku, artikel (jurnal/majalah/koran), modul, ataupun buku yang dicetak lokal). Yang dilakukan justru memasukkan makalah yang notabene tugas semasa kuliah. Itupun terkadang bukan orisinal karya mereka. Bahkan kasus yang lebih miris, ada seorang teman yang memasukkan buku penghubung siswa sebagai hasil karya tulis. Bukankah hal tersebut tak perlu terjadi, jika seandainya sejak awal guru terbiasa menuangkan pemikirannya dalam karya tulis, sebagai implementasi dari intelektualitas mereka.

Ada baiknya para guru belajar dari Alexander Mongot Jaya, akrab dipanggil Pak Mongot. Ia adalah guru Madrasah Aliyah (MA) Walisongo, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah. Lelaki kelahiran Jepara, 24 April 1982, yang memiliki nama asli Agus Siswanto itu terbilang oke dalam hal berkarya (tulis). Sejak 2005 silam, Pak Mongot telah menorehkan karya berupa menulis buku Bahasa Inggris untuk pegangan siswa. Beberapa judul buku telah dihasilkannya: English Revolution, Genre in Use, Listening Hand Book, dan English Smart Book. Saat ini, Pak Mongot sedang mempersiapkan buku Genre in Use kolaborasi dengan Branti, guru SMAN 1 Jepara. Rencananya, buku itu akan diterbitkan pada semester genap mendatang.

Yang unik dari buku-buku karya Pak Mongot, mulai isi buku hingga tata letak adalah garapan tangan kreatifnya. Ditengah aktifitas mengajarnya, Pak Mongot tak mau tinggal diam. Ia berjuang untuk kreatif melakukan inovasi terhadap mata pelajaran yang ditekuni. Salah satunya, menulis buku yang lain daripada yang lain. Meski substansinya sama, harus ada hal yang menarik yang perlu ditonjolkan. Maka tak mengherankan, jika buku-buku yang ditulis Pak Mongot mendapatkan tempat di hati guru-guru lain sehingga dijadikan referensi bagi peserta didik, baik di kalangan sekolah negeri maupun swasta.

Memang tidak gampang untuk mengikuti jejak Pak Mongot. Namun, berbekal kemauan yang kuat, saya kira tak ada hal yang tidak mungkin. Saya yakin, bukannya para guru tidak mampu. Ketika Jawa Pos bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Timur beberapa tahun lalu menyediakan rubrik khusus yang memuat artikel guru, tulisan guru tak kalah dengan penulis profesional. Hanya saja, kemauan untuk memulai memang membutuhkan perjuangan berat dan juga berdarah-darah. Kreatifitas tidak bisa datang sendiri. Harus ada perjuangan untuk memulai. Maka, tak ada jalan lain. Ayo menulis, wahai para guru! Jadikan kreatifitas itu air liur yang terus mengucur sepanjang umur. Jangan jadikan kreatifitas itu air kencing yang hanya mengalir ketika mulut direguki air.***

*)Em. Syuhada', Penulis adalah guru agama SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan.

Pengunjung Blog

DAFTAR ISI

Arsip Blog

Flag Counter

Flag Counter

Pengikut

Breaking News

Artikel Populer Minggu Ini

Lomba

More on this category »

Esai

More on this category »

Resensi Buku

More on this category »