judul gambar
Memuat...
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Oleh : Mochamad Nurkozim*)
 
APA KABAR bapak dan ibu guru se-Kecamatan Bluluk. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Sudah tiga tahun ini saya sudah meninggalkan profesi saya sebagai guru. Namun, saya selalu mengikuti apa saja yang berkaitan dengan profesi keguruan. Karena kebetulan profesi baru saya berkaitan dengan erat dengan informasi seputar pendidikan.

Oh ya, perkenalkan nama saya Mochamad Nurkozim. Saya anak Bluluk asli. Dulu selama lima tahun saya mengajar di SDN Banjargondang. Tentunya semua tahu sekolaH itu, bukan? Kepala sekolahnya ketika itu adalah Bapak Pariadi. Tidak tahu sekarang siapa yang memimpin sekolah itu.

Saat ini saya menjadi salah satu jurnalis atau wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro. Kebetulan oleh redaksi saya di poskan di pendidikan. Jadi semua informasi mengenai pendidikan saya banyak tahu. Bahkan, (maaf) lebih dulu tahu dibanding guru. Maklum, saya bergelut dibidang informasi.

Selama tiga tahun menjadi jurnalis di Radar Bojonegoro, dua kali saya membaca karya Em. Syuhada', guru SDN Talunrejo 3 Kecamatan Bluluk. Terakhir adalah tulisannya yang berjudul Menjadi Guru Penulis, Siapa Takut? yang dimuat di rubrik dibalik buku (minggu, 6/12/2015). Judul tulisan yang sebelumnya entahlah saya lupa.

Saya sangat mengapresiasi ide Pak Em. Syuhada' tentang guru penulis. Pak Syuhada yang terhormat, ketika tulisan bapak sebelumnya dimuat sekitar 2014 silam, saya langsung membawa koran itu ke SDN Banjargondang tempat saya mengajar dulu. Harapannya, supaya guru-guru di sekolah itu terutama yang senior tergugah untuk bisa menulis seperti bapak. Namun, harapan itu pupus. Tidak ada ketertarikan sama sekali pada guru-guru disana untuk menulis.

Entah mungkin usia yang sudah tua, lalu disibukkan dengan berbagai kebutuhan. Atau karena mereka mengangap menulis itu hal yang sangat sulit.

Dulu sebelum saya menjadi jurnalis atau ketika masih jadi guru, sesekali saya menulis dan mengirimkannya ke media massa. Alhamdulillah dimuat. Meskipun tulisan saya ketika itu tidak berbobot dan tulisannya masih amburadul. Tapi saya tetap semangat berlatih.

Bagi saya menulis adalah upaya mengikat ilmu. Banyak orang bisa bicara panjang lebar menyampaikan gagasannya. Namun, tidak banyak orang yang bisa menyampaikan gagasannya melalui sebuah karya tulis. Menulis juga bisa membuat kita berfikir secara tertruktur.

Di Bojonegoro, lokasi saya bertugas menjadi jurnalis saat ini, kerap saya kagum dengan warga kota ini. Percaya atau tidak, banyak PNS guru atau pejabat yang membuat karya tulis. Tulisan mereka banyak dipublikasikan di media massa. Bahkan, Bupati Bojonegoro Suyoto tidak jarang menulis artikel dan dikirimkan ke redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro. Di Lamongan memang ada penulis-penulis yang karyanya dimuat di media masa. Namun, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Sebagai putra asli Bluluk, saya ingin terlahir guru-guru penulis asal Bluluk. Diperlukan semangat untuk itu. Tidak lupa juga minat baca warga Bluluk harus dipompa. Supaya lahir budaya literasi di kalangan para pendidik. Saya tunggu tulisan bapak ibu guru di Jawa Pos Radar Bojonegoro. (*)

*)Mochamad Nurkozim, penulis adalah Mantan Guru SDN Banjargondang Kec. Bluluk. Kini menjadi jurnalis di Jawa Pos Radar Bojonegoro. beralamat di zimradar@gmail.com

Jumat, 27 November 2015

Oleh: Idris Apandi*)

SANGAT menarik dan inspiratif acara Mata Najwa yang disiarkan di Metro TV tanggal 26 Nopember 2015.  Acara yang bertajuk “Belajar dari Ki Hajar Dewantara”  tersebut menghadirkan sejumlah tokoh sebagai narasumber antara lain pakar pendidikan Ki Supriyoko, Litasari dan Ganawati, dua cucu Ki Hajar Dewantara yang pernah merasakan dididik langsung oleh Bapak Pendidikan Indonesia tersebut, Mendikbud Anies Baswedan, penulis dan aktivis pendidikan Bukik Setiawan, dan sejumlah guru berprestasi seperti Badriah, Guru Bahasa Inggris di SMAN 2 Cianjur Jawa Barat, Tomi Zapino, guru IPA di SMAN 2 Seruay Aceh, dan Istiqomah Al Maki, Guru Bahasa Indonesia dari SMAN 1 Batu Jawa Timur, serta sejumlah narasumber lainnya.

Pada acara tersebut, dengan gaya khasnya, Najwa Shihab, sang pembawa acara menyampaikan berbagai pertanyaan yang kritis kepada tiap-tiap narasumber. Dari uraian dialog pada acara tersebut, Saya melihat ada empat catatan yang bisa diambil. Pertama, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa secara filosofis dan operasional pendidikan Indonesia harus mengacu kepada ajaran dan pikiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa sekolah harus menjadi sebuah taman belajar bagi setiap peserta didik.

Sekolah sebagai sebuah taman belajar akan mewujudkan sebuah pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menantang pada setiap anak didik. Anak didik tidak sabar ketika menunggu waktu belajar, nyaman dan betah selama mengikuti kegiatan belajar, dan merasa berat hati jika waktu belajar berakhir. Litasari dan Ganawati, dua cucu Ki Hajar Dewantara mengaku bahwa mereka sangat senang diajar oleh kakeknya tersebut karena mengajari mereka matematika sambil bermain di taman sekolah sehingga pembelajaran tidak membosankan.
Kedua, pendidikan harus melibatkan tiga institusi yang dikenal sebagai “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu, keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga institusi pendidikan tersebut harus bersinergi, seiring sejalan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan, mengutip ucapan Ki Hajar Dewantara, sang host Najwa Shihab mengatakan bahwa “tiap-tiap orang menjadi guru dan tiap rumah menjadi perguruan.” Selanjutnya Ki Supriyoko menambahkan bahwa Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa “keluarga adalah sekolah yang pertama dan ibu adalah guru adalah pendidik yang utama.”

Ki Hajar Dewantara adalah pemikir pendidikan modern. Bukik Setiawan mengatakan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat update pada zamannya bahkan melampaui zamannya. Pemikir pendidikan barat seperti Montessory pada tahun 1940-an pernah berkunjung ke Perguruan Taman Siswa untuk belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara justru banyak digunakan di negara eropa seperti Finlandia yang saat ini dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan paling baik di dunia.

Bukik Setiawan menyampaikan bahwa anak jangan diposisikan sebagai kertas kosong, tetapi sebagai seorang manusia yang aktif mencari pengetahuan dan belajar secara mandiri, filsafat pendidikan yang mendasarinya adalah konstruktivisme. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa ganjaran dan hukuman (reward and punishment) tidak tepat digunakan untuk mengajarkan tanggung jawab dan menegakkan disiplin kepada anak didik. Ki Hajar mengatakan bahwa “ganjaran dan hukuman jangan diberikan agar anak tidak berperilaku karena sekedar mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman.” Selanjutnya Ki Hajar berpendapat bahwa “yang menghancurkan budi pekerti adalah paksaan dan hukuman.” Dengan kata lain, setiap anak didik harus didik secara humanis, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan karena pada dasarnya pendidikan adalah sebuah proses untuk “memanusiakan manusia.”

Ketiga, untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, diperlukan guru yang kreatif dan inovatif, guru yang mau menjadi pembelajar sepanjang hayat, guru yang mau melakukan refleksi diri terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya, dan guru yang mau meningkatkan profesionalismenya secara berkelanjutan. Guru-guru yang kreatif dan inovatif adalah guru yang tidak kehabisan ide untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, berani tampil beda, mau berpikir terbuka, mau menerima perubahan, berpikir out of the box, berani keluar dari pakem-pakem administrasi dan prosedur pembelajaran yang kadang mengekang, dan mau mencari serta mencoba pendekatan, model, metode, strategi, dan teknik pembejajaran yang baru dalam rangka membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Sosok-sosok seperti Badriah, Tomi Zapino, dan Istiqomah Al Maky adalah tiga dari sekian banyak guru yang kreatif dan inovatif. Kreativitas dan inovasi yang mereka lakukan dalam pembelajaran mengantarkan mereka menjadi guru berprestasi dan berkesempatan untuk tampil pada acara Mata Najwa untuk sharing pengalaman terbaiknya (best practice) dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga mampu meningkatkan minat, motivasi, kepercayaan diri, dan prestasi belajar anak-anak didiknya.

Badriah, Juara I Guru Berprestasi Jawa Barat, yang sehari-hari mengajar bahasa Inggris di SMAN 2 Cianjur menggunakan metode dialog jurnal. Metode tersebut digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan siswa dalam menulis menggunakan bahasa Inggris, karena banyak siswanya yang tidak berani menulis menggunakan bahasa Inggris dengan alasan bingung atau takut salah.

Di setiap akhir pelajaran, bu Badriah memberikan kesempatan selama sepuluh menit kepada setiap siswanya untuk menuliskan pengalaman atau unek-uneknya dalam sebuah jurnal menggunakan bahasa Inggris. Bu Badriah menekankan kepada siswa untuk menulis dengan menggunakan bahasa Inggris ala Cianjur, tanpa memperhatikan grammar. Yang penting siswa memiliki kemauan untuk menulis, dan yang penting dapat dipahami maksudnya.

Untuk mendorong para siswa untuk mau menulis, bu Badriah membolehkan siswa untuk menggakan 10 kata kata selain selain bahasa Inggris, seperti bahasa Indonesia atau bahasa Sunda. Dan seiring dengan perkembangan zaman, maka tulisan-tulisan yang pada awalnya ditulisan pada jurnal, maka tulisan tersebut ditulis pada ditulis melalui media sosial seperti WA, BBM, atau FB messenger karena dinilai lebih praktis. Penggunaan metode tersebut terbukti mampu meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan siswa menulis bahasa Inggris secara bertahap selama delapan bulan.

Tomi Zapino, guru berprestasi dari Seruay Aceh menggunakan metode simulasi “dot to dot” untuk meningkatkan minat dan kemampuan siswa pada pelajaran IPA. Metode tersebut juga merupakan sebuah inovasi dalam pelaksanaan tes hasil belajar dimana selama ini siswa terlihat bosan dalam mengerjakan soal-soal yang dengan model yang konvensional dimana Tomi menyusun soal dalam bentuk titik-titik (dot) yang menghubungkan antara soal yang satu dengan soal lainnya hingga membentuk sebuah pola. Dengan demikian, para siswa dapat mengerjakan soal-soal test dengan lebih menyenangkan sekaligus menantang.

Istiqomah Al Maky, guru berprestasi asal SMAN 1 Batu Jawa Timur dikenal sebagai guru yang “anti” mengajar dengan menggunakan buku paket dari pemerintah karena setelah dianalisis strukturnya isinya dinilai kurang relevan dengan minat dan kebutuhan siswa. Beliau lebih memilih untuk menyusun bahan sendiri dan melakukan strategi agar para siswanya bisa dengan mudah menganalisis isi cerpen, antara lain mengajak siswa ke perpustakaan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memilih cerpen yang disenanginya lalu menganalisisnya.

Istiqomah mengaku lebih banyak mengajarkan materi pelajaran secara praktek daripada secara teoritik, mendorong setiap siswa untuk aktif berdiskusi sehingga prestasi siswa-siswanya lebih baik. Beliau tidak suka melakukan ulangan berupa test soal dengan format pilihan ganda karena menurutnya, hidup itu tidak ada pilihan a, b, c, d, e, serta meminimalisasi penggunaan kertas ketika ulangan. Dia bisa mengoreksi ulangan siswa dimana saja dan kapan saja.

Di akhir sesi dialog, Istiqomah membacakan sebuah puisi yang ditulis oleh salah seorang siswanya yang membuat seluruh orang yang hadir di studio tertegun mendengarkan bait demi bait puisi yang dibacanya dengan sangat penuh penghayatan dan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Hadirin pun bertepuk tangan ketika Bu Istiqomah selesai membaca puisi.

Berkaca kepada cara ketiga guru tersebut diatas, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa mereka masing-masing memiliki cara tersendiri dan yang paling penting adalah mereka mengajar dengan sepenuh hati. Jika guru mengajar dengan sepenuh hati, maka siswa pun akan belajar dengan sepenuh hati.

Keempat, Mendikbud Anies Baswedan mengajak kepada seluruh guru di Indonesia untuk menjadi guru yang sepenuh hati, guru yang mengispirasi, dan guru yang memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada setiap anak didik untuk berkreasi. Guru-guru pun harus terus belajar dan belajar kapan pun, dimanapun, dan dari manapun dalam rangka memberikan layanan pendidikan terbaik kepada anak-didiknya. Maju terus guru Indonesia untuk pendidikan Indonesia yang main baik.

Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.

Kamis, 26 November 2015

Oleh Prof. Drs. Tans Feliks, M.Ed., Ph.D.
Dosen FKIP, Undana, Kupang

PGRI Bluluk - Pada bulan November 2015 ini, jutaan guru di seluruh Indonesia mengikuti ujian kompetensi guru (UKG). Tujuannya adalah untuk mengetahui kompetensi profesional (kemampuan menguasai bahan ajar) dan pedagogis (kemampuan memahami cara mengajar para guru) --kompetensi sosial dan individual tidak diuji. Dari hasil UKG itu diketahui peta kedua jenis kompetensi guru itu dalam rentangan 1 (terjelek) sampai 100 (terbaik).

Menurut Kemdikbud, seperti yang sering disampaikan di media massa, guru yang memperoleh hasil UKG kurang dari 60 akan mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya, bila perlu, sampai memperoleh nilai 100, sebuah nilai yang, rupanya, tidak mustahil. Tahun lalu dua orang guru mendapat nilai 100.

Mereka pun diberi "hadiah" melakukan studi banding di Belanda. Tahun ini, yang mendapat nilai 100 akan ke Belanda, Swiss, Jepang, Korea, Jerman, dan Australia (Kompas, 13/11/2015, hlm. 11, Penilaian Tak Cukup Ujian: Guru Berharap Ada Tindak Lanjut dari Uji Kompetensi).

Pelatihan dan insentif tersebut, tentu, mendorong para guru untuk belajar semakin rajin dan, karena itu, bisa memperoleh nilai terbaik atau, minimal, tidak sampai di bawah 60. Persoalannya adalah apakah ketika nilai UKG para guru seperti itu dan, karena itu, mereka dinilai kompeten, mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya, pendidikan dasar dan menengah pada khususnya, membaik?

Menurut Kemdikbud, iya. Asumsinya, guru yang (sangat) kompeten akan menghasilkan juga tamatan yang (sangat) kompeten. Persoalannya, apakah asumsi itu benar. Asumsi itu, dalam banyak hal, salah dan, karena itu, dia merupakan sebuah sesat pikir pemerintah dalam mengelola pendidikan.

Sebagai sebentuk sesat pikir, hasil akhirnya, tentu, tidak akan membuat mutu pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Sebab pendidikan bukan hanya soal guru. Pendidikan juga pertama-tama dan terutama soal murid: bakat/potensi, minat, dan kebutuhan belajarnya (Bdk. C. Rogers,1983, Freedom to Learn for the 80's. New York: Merrill).

Ketika para murid belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya, pas dengan bakat/potensinya, dan cocok dengan minatnya, sejatinya, belajar dan pembelajaran (teaching and learning), menjadi (sangat) efektif. Pengalaman hidup sehari-hari mendukung tesis tersebut (Bdk. Howard Gardner. Dalam C. A. Budiningsih, 2004, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta).

Sebaliknya, jika kebutuhan belajar, bakat/potensi, minat murid diabaikan, belajar dan pembelajaran menjadi (sangat) tidak efektif. Seorang murid SMP, misalnya, yang tidak berniat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena kesulitan biaya atau pertimbangan lainnya dan, karena itu, setelah tamat SMP akan kembali ke kampungnya --tempat semua orang tidak menggunakan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Inggris -- belajar bahasa Inggris, misalnya, tidak relevan.

Karena tidak relevan, apa pun yang diajarkan gurunya, betapa pun gurunya sangat kompeten dalam mengajarkan mata pelajaran itu, murid itu, secara umum, pasti tidak akan tertarik untuk mengikutinya. Dia mungkin akan duduk secara sopan dalam kelas, tetapi perhatiannya di luar kelas. Dia, mungkin, akan datang dan pulang tepat waktu, tetapi itu dilakukannya hanya karena takut disiksa oleh gurunya.

Lebih parah lagi, anak-anak di kota besar yang merasa tanpa masa depan karena sehari-hari menjadi korban kekerasan jalanan. Bagi mereka, kematian sering mengintai. Karena itu, tidak mengherankan kalau mereka juga sering berpikir bahwa mereka, mungkin, akan berpulang ke rumah Bapak di surga dalam waktu dekat; di Bumi ini, mereka merasa tak berpengharapan. Tak punya mimpi. Masa depan gelap-gulita.

Bagi anak seperti itu, guru paling kompeten dan sangat jenius serta mahaguru terbaik sekalipun tidak akan pernah mampu membuat suasana belajar dan pembelajaran efektif. Tidak pernah. Mustahil. Sebaliknya, bagi seorang anak yang hidupnya penuh harapan, sarat dengan mimpi indah, hari esok disambut secara cerah-ceria, belajar dan pembelajaran (sangat) efektif ketika, bahkan, para gurunya tidak kompeten secara profesional atau pedagogis sekalipun. Yang penting, tentu, mereka, para guru itu, punya kompetensi sosial dan individual yang baik --dua jenis kompetensi yang sangat penting, tetapi tidak diuji dalam UKG.

Buah kompetensi sosial dan individual seperti kerendahan hati, persahabatan, kerja keras-cerdas, dedikasi tanpa pamrih dan ketulusan dalam mengajar lebih dari cukup untuk membantu mereka dan murid mereka keluar dari kesulitan dan menjadi kritis, kreatif-produktif, dan mandiri. Ketika para murid, misalnya, menanyakan kepada para gurunya soal bahasa Inggris yang mereka tak paham, mereka mengakui bahwa mereka tak paham soal itu.

Akan tetapi, pengakuan itu, tentu, bukan berarti mengangkat tangan dan menyerah. Tidak. Tidak sama sekali. Pengakuan itu, bagi para guru yang rendah hati, berarti bertanya kepada guru lain di sekolahnya atau di sekolah lain atau kepada siapa pun yang mampu menjawab persoalan muridnya sampai persoalan itu terjawab secara benar. Mereka terus berusaha sampai muridnya keluar dari masalahnya.

Ketika para guru melakukan itu, mereka, sesungguhnya, menunjukkan kompetensi sosial dan invidualnya yang, dalam contoh di atas, luar biasa. Ironisnya, kedua jenis kompetensi itu diabaikan dalam UKG padahal efeknya sangat besar demi keberhasilan belajar seorang murid -- sebuah contoh lain dari sesat pikir pendidikan pemerintah.

Dalam alur pikir demikian, saya berharap para guru lulus UKG dengan nilai 100, kalau bisa. Walaupun demikian, jika nilainya rendah, mereka tidak perlu galau. Apalagi resah-sedih. Apalagi menangis. Tidak boleh. Sebab mutu pendidikan, dalam banyak hal, tergantung bukan hanya pada hasil UKG -- jelek atau baik - -tetapi pada bakat, minat, dan kebutuhan belajar murid dan ketulusan guru untuk membantu muridnya, kapan pun dan di mana pun bantuan itu dibutuhkan.

Dalam banyak hal, kehebatan para guru menjadi sia-sia kalau para muridnya tidak punya bakat, minat, dan kebutuhan belajar pada materi yang diajarkan. Sebaliknya, kompetensi profesional dan pedagogik para guru yang (sangat) lemah tidak harus berarti pendidikan yang tidak bermutu kalau mereka punya kompetensi sosial dan individual yang istimewa di tengah muridnya yang belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya, pas dengan bakat/potensinya, dan sesuai dengan minatnya. Itu saja sudah cukup bagi terciptanya sebuah pendidikan yang bermutu.

Apalagi jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa ketulusan untuk membantu para murid keluar dari masalahnya secara tekun terus-menerus, dalam banyak hal, bukan soal hasil UKG saja: guru yang bernilai UKG 100 belum tentu tulus membantu, bukan?

Jadi, kalau mau pendidikan di negeri ini bermutu, sistem pendidikan khas Indonesia yang berorientasi pada siswa -- kebutuhan belajarnya, bakat/potensi, dan minatnya -- perlu segera dibangun secara mantap (Bdk. Feliks Tans, Kompas Siang, 18/11/2014, Membangun Pendidikan Khas Indonesia). Itu prasyarat dasar bagi terciptanya suasana belajar dan pembelajaran yang aktif, kritis, kreatif, dan mandiri. Tanpa itu, pendidikan di negeri ini akan terus kalah bersaing walaupun nilai UKG para gurunya 100 semuanya.*

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2015/1...

Rabu, 18 November 2015

Oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)

KATANYA, pengalaman adalah guru terbaik. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak ilmu yang didapat. Mungkin ini yang dibilang ilmu hikmah. Tidak hanya dari pengalaman pribadi, pelajaran juga bisa diambil dari pengalaman orang, sesuatu yang lain. Mungkin juga ini salah satu alasan ada cabang ilmu bernama pelajaran sejarah.

Dari sekian banyak yang pernah punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan “pengalaman”, tak bisa dimungkiri bahwa yang paling lama berkiprah dan mengumpulkan pengalaman adalah alam. Bukan Alam sang penyanyi lagu Mbah Dukun yang terkenal itu, melainkan alam dalam arti nature, alam semesta.

Alam semesta dengan usia curriculum vitae--nya yang milyaran tahun, bahkan lebih, dengan buminya yang sudah pernah didiami banyak jenis makhluk hidup dari masa balkadaba, dinosaurus, sampai yang paling mutakhir, manusia, mendapat kesempatan untuk belajar sangat banyak dengan proses-proses evolusinya. Dan pasti sangat banyak yang bisa kita pelajari dari “keputusan-keputusan” yang diambil oleh alam.

Sedikit contoh, kita tahu bahwa pada masa yang sama, jaring laba-laba punya kekuatan lima kali lipat lebih tangguh daripada baja. Begitu kuatnya jaring ini, hanya dibutuhkan seutas jaring laba-laba dengan diameter 10 sentimeter untuk menghentikan pesawat jumbo jet dengan kekuatan penuh.

Makhluk sesimpel lalat memiliki cara terbang yang begitu canggih, dengan manuverbility yang begitu tinggi, yang sampai saat ini belum mampu direplika oleh teknologi paling canggih yang dimiliki manusia. Banyak lagi contoh bahwa alam jauh lebih berpengalaman, jauh lebih matang, dan beberapa langkah di depan manusia dalam memecahkan masalah.

Bukan hanya pada ranah “IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)” alam memberi kita pelajaran berharga. Society system pada semut dan lebah begitu sophisticated-nya, sampai-sampai seringkali kita harus dibuat malu dengan inkompetensi kita untuk bisa bekerja sama sebaik mereka. Ada salah satu “keputusan” alam lagi yang sangat menarik yang sepertinya bisa kita ambil pelajarannya untuk memahami diri kita (dengan sudut pandang generasi) lebih dalam lagi, Seksualitas.

Mungkin kita terlalu menganggap enteng seks. Seks adalah sebuah metode di mana makhluk hidup berusaha membuat keturunannya. Dari sudut pandang evolusi, seks adalah salah satu misteri terbesar yang pernah ada. Sebenarnya ada metode lain yang juga digunakan makhluk hidup untuk meneruskan keturunan, yaitu aseksual. Pertanyaannya, kenapa lebih banyak makhluk yang menggunakan metode seksual daripada aseksual pada saat ini? Kelebihan apa yang dimiliki metode seksual dan tidak dimiliki metoda aseksual? Terus, apa hubungannya dengan “sudut pandang generasi” mumbo jumbo tadi?

Metode seksual adalah sebuah metode di mana sebentuk individual harus menemukan pasangan dengan jenis kelamin berbeda dan bekerja sama membentuk keturunan baru (produksi). Sedangkan pada metode aseksual, sebentuk individu dengan sendirinya mampu meneruskan keturunan tanpa bantuan individu yang lain, dengan kata lain individu ini menciptakan 100% copy atas dirinya sendiri (reproduksi). Mikroba, beberapa jenis tanaman, bahkan beberapa jenis reptil, menggunakan metode ini.

Secara nalar, metode aseksual jauh lebih menjanjikan untuk menjaga jumlah keturunan sebuah spesies karena kemudahannya. Tapi ternyata bukan itu yang dipilih oleh alam.

Salah satu hipotesis mengatakan bahwa dengan metode aseksual, walaupun dengan keuntungan mampu membuat keturunan dengan jumlah besar, sebuah spesies akan memiliki keseragaman genetik. Dan dengan keseragaman genetika, berarti spesies tersebut juga memiliki kerentanan yang seragam terhadap salah satu jenis parasit tertentu. Ada satu yang terjangkit parasit dan mati, maka seluruh spesies itu akan menjadi sangat potensial untuk punah.

Di lain pihak, metode seksual, walaupun kemampuan membentuk keturunan tidak terlalu besar (tidak sebesar metode aseksual), menghasilkan keturunan dengan gen-gen yang beragam karena sebuah keturunan merupakan gabungan gen kedua orang tuanya. Satu individu rentan terhadap parasit tertentu tidak berarti individu yang lain dalam spesies yang sama memiliki kerentanan serupa.

Secara teori, keanekaragaman dan metode dengan jenis produksi itu memiliki ketangguhan yang lebih tinggi untuk menghadapai berbagai masalah. Hipotesis ini telah dibuktikan benar dengan ditemukannya Potamopyrgus antipodarum. Yakni sejenis siput di Selandia Baru yang sangat spesial karena spesies ini memiliki sekaligus dua jenis cara berkembang-biak: seksual dan aseksual. menurut pengalaman alam dan eksperimen, metode produksi lebih berhasil daripada metode reproduksi.

Pendidikan. Secara esensi, pendidikan tidak begitu berbeda dari perkembangbiakan. Keduanya adalah usaha meneruskan informasi yang didapat dari sebuah generasi kepada generasi berikutnya. Pendidikan meneruskan informasi ilmu pengetahuan, berkembang biak meneruskan informasi genetiknya, tapi dengan satu perbedaan penting: transfer ilmu pengetahuan membutuhkan pemahaman otak terhadap informasi itu sendiri, transfer genetika tidak.

Karena itu dalam proses pendidikan dikenal beberapa faktor yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah proses belajar-mengajar yang efektif. Kejelasan dan kematangan ideologi pendidikan mesti tepat, metode dan praktek pendidikan juga mesti akurat. Metodologi yang terdiri dari cara pandang, alat, dan cara harus datang dari kesadaran objekif tentang esensi dan tujuan proses belajar ini.

Ada pandangan bahwa proses belajar-mengajar tidak pernah bisa lepas dari pengaruh society dimana proses ini terselenggara. Pendapat ini berasal dari asumsi bahwa sebuah proses pendidikan harus menghasilkan anak didik yang tidak kontra dengan kekuasaan, struktur sosial, dan sistem yang berlaku. Dengan tujuan itu, otomatis pendidikan menjadi sarana untuk melanggengkan apa yang sudah ada. Memproduksinya.

Di lain pihak, ada sebuah teori yang mengatakan bahwa pendidikan seharusnya membangkitkan kesadaran anak didiknya. Kesadarana gender, kesadaran kelas, dan kesadaran-kesadaran yang lain. Pendidikan seharusnya mampu memproduksi anak didiknya secara maksimal, sehingga mereka mampu mencapai hal setinggi yang mereka inginkan. Meproduksinya.

Lalu, apa yang kita miliki di dunia pendidikan pada saat ini? Setelah membaca, menulis, dan berhitung, apa lagi yang kira-kira dibutuhkan untuk mendapatkan gelar “generasi terdidik”? Kata terdidik sendiri pada saat ini berarti seseorang yang telah mendapatkan ijazah lulus dalam sebuah organisasi pendidikan yang diakui negara. Ijazah itu sendiri begitu tinggi nilainya sebagai pengukur absolut untuk menentukan posisi hierarki dalam masyarakat. Parameter untuk mendapatkan pekerjaan sampai iklan mencari jodoh tak bisa lepas dari frasa “minimal lulusan…”.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian di benak saya kemudian, seakurat itukah ijazah? Jenis pendidikan apa yang bisa terefleksikan oleh ijazah?

Awal sekolah dimulai dengan pelajaran membaca. Membaca dalam arti “sempit” adalah memahami pesan dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, dengan kemampuan membaca, kita diberi jalan untuk belajar hal-hal yang lebih banyak dan lebih luas. Saya sebut turunan kedua dari proses belajar ini sebagai pintu wacana. Turunan kedua ini termasuk ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan sebagainya.

Dalam arti yang lebih dalam, kemampuan membaca lebih berarti bagaimana kita bisa memahami orang lain dan dapat apa yang ingin diungkapkan orang lain. Berarti juga kita mampu mencerna dan memproduksi informasi yang didapat generasi sebelumnya.

Menulis dalam arti “sempit” adalah menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia, kemampuan menulis memberi alat untuk terkoneksi dengan khalayak yang lebih luas dari sekedar bahasa lisan. Bersama dengan kemampuan membaca, kita dididik untuk mampu mengungkapkan sesuatu yang ingin kita ungkapkan dengan bahasa yang jelas dan struktur yang tertata.

Berhitung dalam arti “sempit” adalah mampu memahami dan memproses data dalam bentuk angka. Pada arti lebih dalam, secara eksplisit: sebuah bentuk metode matematis dalam memecahkan sebuah masalah, memberi pelajaran sistematis dalam cara berpikir. Secara implisit, metode matematis melatih logika berpikir untuk mengeliminasi grey area. Semua komponen didalamnya ada pada ranah benar-salah, tak ada kompromi. Semuanya adalah pasti, tak ada korupsi ataupun retorika pembenaran. Reproduksi pengetahuan matematis adalah wajib untuk mampu berproduksi di bidang ini dan turunannya.

Ijazah bisa didapatkan dengan sebuah tes untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh yang terdidik. Tes berupa pertanyaan dengan jawaban yang harus sesuai dengan buku referensi. Karakteristik proses pendidikan dengan tipe reproduksi. Tes ini akan sangat tepat pada bidang-bidang yang membutuhkan jawaba-jawaban absolut, seperti matematika, fisika, biologi, dan turunannya.

Yang disayangkan, metode ini tidak memberi ruang pada pengembangan pemahaman manusia (anak didik) terhadap hal-hal yang bersifat sosial. Ketika anak didik berpendapat bahwa kesempatan pendidikan di Indonesia tidak adil, berdasarkan pengalamannya yang tidak bisa masuk sekolah tertentu karena tidak mampu membayar uang, dia bisa dipastikan mendapat nilai buruk dalam tes ini, karena tentu tidak sesuai dengan buku referensi.

Sejauh ini, sosiety kita dibangun berdasarkan pemerataan tolok ukur reproduksi. Dan terbukti, anak didik akan sangat berprestasi pada bidang-bidang yang tepat dengan metode ini. Juara olimpiade matematika dan fisika, misalnya.

Tapi, apakah sistem pendidikan kita mampu menghasilkan anak didik yang kritis, yang mampu menganalisis kondisi sosial, terlatih berpikir kritis, menghargai nilai keadilan setinggi dia menilai angka rapor? Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, tentu dengan cara berpikir kritis pula.

Sudah sangat pakar kita menggunakan metode pendidikan reproduksi. Dan sepertinya sudah waktunya kita mulai memikirkan jenis “ijazah” yang mampu merefleksikan tingkat keterdidikan anak dalam mengembangkan dirinya sebagai manusia. Dibutuhkan metode yang tepat dan pemetaan yang akurat dalam sistem pendidikan kita. Bidang mana yang harus memakai cara reproduksi dan bidang mana yang harus memakai cara produksi, tentu beserta sistem “ijazah”-nya.

Tidak perlu muluk-muluk, setidaknya kita bisa memulai dengan mengajarkan dan memberi pemahaman bahwa, misalnya, sepakbola bukanlah sekedar banyak gol yang bisa dibuat, melainkan apakah kita cukup sportif dalam membuat gol itu. Sportifitas penting, karena sportifitas adalah nyawa keadilan. []

Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe Letto)______
Sumber: GATRA No. 39 Tahun XV/6 - 12 Agustus 2009

Pengunjung Blog

DAFTAR ISI

Arsip Blog

Flag Counter

Flag Counter

Pengikut

Breaking News

Artikel Populer Minggu Ini

Lomba

More on this category »

Esai

More on this category »

Resensi Buku

More on this category »